Memilih Teleskop untuk Pemula

Saat ini saya sedang menimbang-nimbang untuk membeli teleskop astronomi saya yang pertama. Sebagai pemula dan amatir, tentu topik utama yang saya saat ini saya sering baca adalah teleskop apa yang terbaik untuk dibeli oleh pemula seperti saya. Apalagi sebagai amatir dan astronomi merupakan hobi semata, masalah biaya dan harga menjadi aspek yang juga paling menjadi perhatian.

Saat ini saya sedang menimbang-nimbang untuk membeli teleskop astronomi saya yang pertama. Sebagai pemula dan amatir, tentu topik utama yang saya saat ini saya sering baca adalah teleskop apa yang terbaik untuk dibeli oleh pemula seperti saya. Apalagi sebagai amatir dan astronomi merupakan hobi semata, masalah biaya dan harga menjadi aspek yang juga paling menjadi perhatian.

Ternyata untuk menjawab pertanyaan di atas tidak sesederhana yang saya bayangkan. Beberapa teleskop yang sebelumnya saya incar, review-nya ternyata buruk. Waduh! Padahal budgetnya masuk loh. Apalagi ternyata kalau mencari teleskop di bawah Rp.10 juta ternyata hampir tidak ada yang merekomendasikan.

Di kisaran harga di bawah Rp. 10 juta bahkan sebagian besar “pakar” hanya merekomendasikan observasi langsung dengan binokuler saja. Kalau mau dengan teleskop, paling hanya bagus untuk mengamati bulan saja. Kok begini amat ya? Lalu alasan pertimbangannya apa saya sehingga sampai masuk ke kesimpulan tersebut? Berikut pembahasannya.

Tentukan Siapa Pengguna Teleskop Tersebut

Menentukan siapa yang menggunakan teleskop sangat penting dalam memilih teleskop pertama. Apakah anak-anak atau orang dewasa atau adakah hambatan dalam fisik misalkan sulit untuk jongkok atau sulit untuk duduk lama. Hal ini tentu akan membedakan kebutuhan dari orang ke orang.

Objek Angkasa Apa yang Akan Diamati

Maksud objek angkasa tersebut misalnya bulan, planet dalam tata surya, atau objek langit jauh (deep sky object) seperti nebula atau galaksi. Hal ini penting karena setiap objek memiliki karakteristik khusus dan nyaris tidak ada teleskop sempurna yang cocok untuk mengamati semua benda dengan sempurna. Kalaupun ada, tapi harganya akan sangat mahal!

Teleskop apa yang terbaik untuk mengamati planet?

Jika kita tertarik untuk mengamati planet-planet tata surya, aspek teknis yang sangat diperhatikan adalah pilihlah teleskop dengan bukaan yang besar. Teleskop Dobsonian dengan cermin minimal 8 inci adalah pilihan yang bagus, dan tentu saja cermin 10 inci atau 12 inci akan lebih baik.

Jika kita ingin memotret planet secara detail, teleskop dengan pembesaran tinggi dan bukaan besar adalah pilihan yang baik. Jenis teleskop seperti Schmidt-Cassegrain mnerupakan salah satu pilihan yang terbaik. Teleskop ini dapat dipasang pada dudukan tracking equatorial, untuk melacak pergerakan planet secara tepat di langit.

Teleskop manakah yang terbaik untuk mengamati galaksi?

Sebagian besar galaksi tampak kecil dan redup diliat dari Bumi karena jarak yang sangat jauh. Untuk itu, diperlukan teleskop dengan bukaan yang besar karena dapat mengumpulkan lebih banyak cahaya. Teleskop reflektor Newtonian adalah pilihan yang bagus bagi kita dengan anggaran terbatas karena selain bukaan besar, kita juga dapat menangkap detail yang luar biasa pada galaksi paling terang di langit malam.

Galaksi terbesar dapat dilihat di hampir semua teleskop, dalam kondisi yang tepat. Misalnya, Galaksi Andromeda diambil dilihat dengan menggunakan teleskop refraktor kompak dengan bukaan 80 mm. Namun, melihat galaksi melalui lensa mata teleskop seperti ini bukanlah hal yang ideal.

Untuk mencari pengalaman pengamatan terbaik, teleskop Dobsonian dengan bukaan 12 inci atau lebih akan menunjukkan objek yang lebih redup daripada kebanyakan teleskop lainnya.

Teleskop mana yang tepat untuk melihat cincin Saturnus?

Mengamati cincin Saturnus yang ikonik melalui teleskop adalah salah satu pengalaman astronomi paling berkesan bagi kita. Meskipun hampir semua teleskop mampu mengamati planet Saturnus, untuk mengamatinya secara detail memerlukan teleskop dengan perbesaran sedang hingga tinggi.

Teleskop dengan bukaan minimal 150 mm (6 inci) dan panjang fokus 1000 mm+ direkomendasikan untuk mengamati Cincin Saturnus secara detail. Dudukan teleskop dengan pelacak terkomputerisasi akan memudahkan untuk tetap fokus pada planet tersebut dalam jangka waktu yang lebih lama.

Apa teleskop terbaik untuk mengamati bulan?

Bulan adalah objek angkasa yang paling mudah dilihat melalui teleskop. Dengan kawah-kawahnya yang menawan dan berbagai fase bulan, lanskap bulan adalah target favorit bagi banyak pengamat astronomi.

Teleskop astronomi apa pun cocok untuk mengamati bulan. Namun, teleskop refraktor yang terkoreksi dengan baik akan memberikan tampilan yang paling tajam. Teleskop refraktor apokromatik kelas menengah dengan apertur 100 mm akan memberikan tampilan bulan yang tajam dan detail.

Jika menginginkan foto permukaan bulan yang detail, teleskop yang lebih besar seperti teleskop reflektor Newtonian atau Schmidt-Cassegrain adalah pilihan terbaik. Apertur 10 inci atau lebih akan memperlihatkan kawah-kawah yang tak terhitung jumlahnya di permukaan bulan yang dapat kita amati secara detail.

Tentukan Tujuan Pengamatan: Obervasi Langsung atau Astrofotografi

Selain itu perlu dipertimbangkan juga untuk tujuan dari alat tersebut. Ada dua hal yang besar yang pertama apakah tujuannya itu untuk hanya observasi saja atau apakah ditujukan untuk mengambil gambar serta membagikannya dengan orang lain. Hal ini dikarenakan terdapat beberapa jenis-jenis teleskop yang di mana optimal untuk observasi namun tidak optimal untuk pengambilan gambar begitu pula sebaliknya ada yang optimal untuk pengambilan gambar atau ada juga yang tidak optimal untuk observasi langsung.

Penjelasan ringkas mengenai jenis-jenis teleksop dapat disimak di tautan ini.

Teleskop Dobsonian: Salah Satu yang Terbaik untuk Pemula

Teleskop Dobsonian adalah salah satu jenis teleskop yang paling populer di kalangan astronom amatir, terutama bagi mereka yang ingin melihat objek luar angkasa yang redup (seperti galaksi dan nebula) tanpa harus mengeluarkan biaya selangit.

2184897245

Secara teknis, teleskop ini merupakan variasi dari desain Newtonian yang dipasang di atas dudukan (mount) yang sangat sederhana. Adapun kelebihan yang ditawarkan teleskop ini adalah sebagai berikut:

  • Apertur besar dengan harga relatif terjangkau. Karena dudukannya murah dan mudah dibuat, biaya produksi dialihkan sepenuhnya ke ukuran cermin. Anda bisa mendapatkan teleskop dengan diameter 200 mm (8 inci) dengan harga yang jauh lebih murah daripada jenis Cassegrain atau refraktor dengan ukuran yang sama.
  • Sangat stabil. Berbeda dengan tripod yang kadang goyang terkena angin, rocker box Dobsonian duduk langsung di tanah, sehingga sangat stabil dan minim getaran.
  • Kemudahan penggunaan. Tidak perlu penyelarasan kutub (polar alignment) yang rumit. Anda cukup meletakkannya di tanah, lalu mengarahkannya langsung ke objek yang ingin dilihat (konsep point-and-shoot).
  • Kekuatan visual. Sangat mumpuni untuk melihat detail kawah bulan, cincin Saturnus, hingga objek jauh (deep sky objects) seperti Nebula Orion atau Andromeda.

Meskipun hebat, teleskop ini memiliki beberapa karakteristik yang perlu diketahui:

  •  Ukuran besar dan berat. Teleskop Dobsonian dengan aperture besar (di atas 10 inci) bisa sangat berat dan memakan tempat di bagasi mobil.
  • Pelacakan manual. Kebanyakan Dobsonian bersifat manual. Karena bumi berputar, objek di langit akan perlahan bergeser dari pandangan, sehingga kita harus mendorong tabung secara perlahan untuk terus mengikuti objek tersebut.
  • Bukan untuk astrofotografi eksposur lama. Karena gerakannya altazimuth (bukan ekuatorial), teleskop ini sulit digunakan untuk memotret galaksi yang butuh waktu bukaan lensa lama, meski sangat bagus untuk foto bulan atau planet yang cepat.

Jadi, jika tujuan utama kita adalah pengamatan visual dan ingin melihat objek langit sedetail mungkin dengan anggaran terbatas, Dobsonian adalah pilihan terbaik. Teleskop ini sering dijuluki sebagai “meriam cahaya” karena kemampuannya mengumpulkan cahaya yang luar biasa dalam paket yang sederhana.

Permasalahan Astronom Pemula di Indonesia

Tetapi, setelah melakukan pencarian, ternyata untuk teleskop Dobsonian 8 atau 10 inchi di Indonesia dengan harga di bawah Rp.10 juta ternyata sulit sekali. Begitu juga tempat membeli atau melihat langsung di toko peralatan astronomi juga sangat-sangat terbatas.

Sampai saat ini saya sendiri masih mencari alat yang pas. Pertimbangannya adalah mencari teleskop Dobsonian 6 atau 8 inchi dengan harga semurah mungkin atau pilihan lain adalah memulai dengan teleskop pintar atau smart telescope.