Memilih Teleskop untuk Pemula

Saat ini saya sedang menimbang-nimbang untuk membeli teleskop astronomi saya yang pertama. Sebagai pemula dan amatir, tentu topik utama yang saya saat ini saya sering baca adalah teleskop apa yang terbaik untuk dibeli oleh pemula seperti saya. Apalagi sebagai amatir dan astronomi merupakan hobi semata, masalah biaya dan harga menjadi aspek yang juga paling menjadi perhatian.

Saat ini saya sedang menimbang-nimbang untuk membeli teleskop astronomi saya yang pertama. Sebagai pemula dan amatir, tentu topik utama yang saya saat ini saya sering baca adalah teleskop apa yang terbaik untuk dibeli oleh pemula seperti saya. Apalagi sebagai amatir dan astronomi merupakan hobi semata, masalah biaya dan harga menjadi aspek yang juga paling menjadi perhatian.

Ternyata untuk menjawab pertanyaan di atas tidak sesederhana yang saya bayangkan. Beberapa teleskop yang sebelumnya saya incar, review-nya ternyata buruk. Waduh! Padahal budgetnya masuk loh. Apalagi ternyata kalau mencari teleskop di bawah Rp.10 juta ternyata hampir tidak ada yang merekomendasikan.

Di kisaran harga di bawah Rp. 10 juta bahkan sebagian besar “pakar” hanya merekomendasikan observasi langsung dengan binokuler saja. Kalau mau dengan teleskop, paling hanya bagus untuk mengamati bulan saja. Kok begini amat ya? Lalu alasan pertimbangannya apa saya sehingga sampai masuk ke kesimpulan tersebut? Berikut pembahasannya.

Tentukan Siapa Pengguna Teleskop Tersebut

Menentukan siapa yang menggunakan teleskop sangat penting dalam memilih teleskop pertama. Apakah anak-anak atau orang dewasa atau adakah hambatan dalam fisik misalkan sulit untuk jongkok atau sulit untuk duduk lama. Hal ini tentu akan membedakan kebutuhan dari orang ke orang.

Objek Angkasa Apa yang Akan Diamati

Maksud objek angkasa tersebut misalnya bulan, planet dalam tata surya, atau objek langit jauh (deep sky object) seperti nebula atau galaksi. Hal ini penting karena setiap objek memiliki karakteristik khusus dan nyaris tidak ada teleskop sempurna yang cocok untuk mengamati semua benda dengan sempurna. Kalaupun ada, tapi harganya akan sangat mahal!

Teleskop apa yang terbaik untuk mengamati planet?

Jika kita tertarik untuk mengamati planet-planet tata surya, aspek teknis yang sangat diperhatikan adalah pilihlah teleskop dengan bukaan yang besar. Teleskop Dobsonian dengan cermin minimal 8 inci adalah pilihan yang bagus, dan tentu saja cermin 10 inci atau 12 inci akan lebih baik.

Jika kita ingin memotret planet secara detail, teleskop dengan pembesaran tinggi dan bukaan besar adalah pilihan yang baik. Jenis teleskop seperti Schmidt-Cassegrain mnerupakan salah satu pilihan yang terbaik. Teleskop ini dapat dipasang pada dudukan tracking equatorial, untuk melacak pergerakan planet secara tepat di langit.

Teleskop manakah yang terbaik untuk mengamati galaksi?

Sebagian besar galaksi tampak kecil dan redup diliat dari Bumi karena jarak yang sangat jauh. Untuk itu, diperlukan teleskop dengan bukaan yang besar karena dapat mengumpulkan lebih banyak cahaya. Teleskop reflektor Newtonian adalah pilihan yang bagus bagi kita dengan anggaran terbatas karena selain bukaan besar, kita juga dapat menangkap detail yang luar biasa pada galaksi paling terang di langit malam.

Galaksi terbesar dapat dilihat di hampir semua teleskop, dalam kondisi yang tepat. Misalnya, Galaksi Andromeda diambil dilihat dengan menggunakan teleskop refraktor kompak dengan bukaan 80 mm. Namun, melihat galaksi melalui lensa mata teleskop seperti ini bukanlah hal yang ideal.

Untuk mencari pengalaman pengamatan terbaik, teleskop Dobsonian dengan bukaan 12 inci atau lebih akan menunjukkan objek yang lebih redup daripada kebanyakan teleskop lainnya.

Teleskop mana yang tepat untuk melihat cincin Saturnus?

Mengamati cincin Saturnus yang ikonik melalui teleskop adalah salah satu pengalaman astronomi paling berkesan bagi kita. Meskipun hampir semua teleskop mampu mengamati planet Saturnus, untuk mengamatinya secara detail memerlukan teleskop dengan perbesaran sedang hingga tinggi.

Teleskop dengan bukaan minimal 150 mm (6 inci) dan panjang fokus 1000 mm+ direkomendasikan untuk mengamati Cincin Saturnus secara detail. Dudukan teleskop dengan pelacak terkomputerisasi akan memudahkan untuk tetap fokus pada planet tersebut dalam jangka waktu yang lebih lama.

Apa teleskop terbaik untuk mengamati bulan?

Bulan adalah objek angkasa yang paling mudah dilihat melalui teleskop. Dengan kawah-kawahnya yang menawan dan berbagai fase bulan, lanskap bulan adalah target favorit bagi banyak pengamat astronomi.

Teleskop astronomi apa pun cocok untuk mengamati bulan. Namun, teleskop refraktor yang terkoreksi dengan baik akan memberikan tampilan yang paling tajam. Teleskop refraktor apokromatik kelas menengah dengan apertur 100 mm akan memberikan tampilan bulan yang tajam dan detail.

Jika menginginkan foto permukaan bulan yang detail, teleskop yang lebih besar seperti teleskop reflektor Newtonian atau Schmidt-Cassegrain adalah pilihan terbaik. Apertur 10 inci atau lebih akan memperlihatkan kawah-kawah yang tak terhitung jumlahnya di permukaan bulan yang dapat kita amati secara detail.

Tentukan Tujuan Pengamatan: Obervasi Langsung atau Astrofotografi

Selain itu perlu dipertimbangkan juga untuk tujuan dari alat tersebut. Ada dua hal yang besar yang pertama apakah tujuannya itu untuk hanya observasi saja atau apakah ditujukan untuk mengambil gambar serta membagikannya dengan orang lain. Hal ini dikarenakan terdapat beberapa jenis-jenis teleskop yang di mana optimal untuk observasi namun tidak optimal untuk pengambilan gambar begitu pula sebaliknya ada yang optimal untuk pengambilan gambar atau ada juga yang tidak optimal untuk observasi langsung.

Penjelasan ringkas mengenai jenis-jenis teleksop dapat disimak di tautan ini.

Perhatikan Kualitas Optik Sebuah Teleskop

Selain hal teknis di atas, beberapa istilah yang digunakan untuk menilai kualitas lensa dan cermin teleskop perlu didefinisikan dan dibahas. Dalam kehidupan sehari-hari, ketika kita ingin menyatakan akurasi sesuatu, kita biasanya menuliskannya dalam pecahan inci, sentimeter, atau milimeter.

Kelengkungan menentukan kualitas optik dari lensa atau cermin. Dalam dunia optik, kelengkungan lensa atau cermin harus dibuat dengan toleransi yang sangat ketat, tidak praktis untuk menyebutkan kualitas optik dalam satuan pengukuran sehari-hari. Sebagai gantinya, kualitas optik biasanya dinyatakan dalam pecahan panjang gelombang cahaya. Karena setiap warna dalam spektrum memiliki panjang gelombang yang berbeda, ahli optik menggunakan warna yang paling sensitif bagi mata manusia: kuning kehijauan. Kuning kehijauan, di tengah spektrum tampak, memiliki panjang gelombang 550 nanometer, yaitu 0,00055 milimeter atau 0,00002 inci.

Agar lensa atau cermin akurat hingga, katakanlah, 1/8 gelombang (nilai yang sering dikutip oleh produsen teleskop), bentuk permukaannya tidak boleh menyimpang dari kesempurnaan lebih dari 0,000069 mm, atau 0,000003 inci! Ini berarti bahwa tidak ada ketidakberaturan kecil (biasanya disebut bukit dan lembah) pada permukaan optik yang melebihi tinggi atau kedalaman 1/8 dari panjang gelombang cahaya kuning-hijau. Seperti yang Anda lihat, semakin kecil pecahannya, semakin baik optiknya. Dengan bukaan dan kondisi yang sama, teleskop A dengan optik utama 1/8 gelombang (lensa atau cermin) seharusnya mengungguli teleskop B dengan lensa atau cermin 1/4 gelombang, sementara keduanya seharusnya dilampaui oleh teleskop C dengan optik utama 1/20 gelombang.

Akan tetapi, perusahaan-perusahaan dengan cepat membanggakan kualitas cermin utama dan lensa objektif mereka, tetapi pada kenyataannya, kita harus memperhatikan gelombang muka akhir yang mencapai mata pengamat, yang dua kali lipat kesalahan gelombang optik utama saja. Misalnya, teleskop reflektor dengan cermin 1/8 gelombang memiliki gelombang muka akhir 1/4 gelombang. Nilai ini dikenal sebagai Kriteria Rayleigh dan biasanya dianggap sebagai tingkat kualitas terendah yang akan menghasilkan gambar yang dapat diterima. Jelas, instrumen dengan gelombang muka akhir 1/8 sangat bagus. Namun, bahkan angka-angka ini harus ditafsirkan secara longgar karena tidak ada metode pengujian yang berlaku di seluruh industri.

Karena meningkatnya ketidakpuasan konsumen terhadap kualitas teleskop komersial, beberapa ahli sering menguji peralatan dan kemudian menerbitkan hasilnya. Hasilnya bahwa klaim yang dibuat oleh beberapa produsen (terutama beberapa produsen reflektor Newtonian dan Schmidt-Cassegrain) agak, boleh dibilang, dilebih-lebihkan.

Mengingat temuan ini, banyak perusahaan telah menghentikan klaim tentang gelombang optik mereka, dan menggantinya dengan gelombang yang dibatasi difraksi, yang berarti bahwa optik tersebut sangat baik sehingga kinerjanya hanya dibatasi oleh sifat gelombang cahaya itu sendiri dan bukan oleh kekurangan dalam akurasi optik. Secara umum, agar dibatasi difraksi, gelombang akhir suatu instrumen harus minimal 1/4 gelombang, yaitu Kriteria Rayleigh. Namun sekali lagi, ini bisa jadi klaim yang subjektif.

Beberapa produsen optik teleskop premium menyatakan kualitas produk mereka dalam hal rasio Strehl. kita tahu bahwa teleskop memfokuskan cahaya dari sebuah bintang bukan ke titik yang sempurna, melainkan ke dalam cakram kecil yang disebut cakram Airy, yang dikelilingi oleh serangkaian cincin difraksi.

Dengan menggunakan matematika yang terlalu rumit untuk dijelaskan di sini, para insinyur optik dapat menghitung distribusi cahaya dalam cakram Airy yang dihasilkan oleh teleskop yang secara teoritis sempurna.

Tidak mengherankan, bagian paling terang dari cakram Airy berada di tengahnya. Rasio Strehl adalah jumlah cahaya yang difokuskan oleh teleskop dunia nyata ke tengah cakram Airy dibagi dengan jumlah cahaya yang difokuskan di sana pada teleskop “sempurna” dengan apertur dan panjang fokus yang sama. Oleh karena itu, teleskop yang sempurna dan tidak mungkin dicapai akan memiliki rasio Strehl sebesar 1,00.

Secara umum kita ingin mencari nilai sedekat mungkin dengan 1,00 (atau 100, jika dikutip sebagai persentase) ketika menilai keunggulan teleskop berdasarkan rasio Strehl-nya. Tetapi seperti halnya nilai panjang gelombang fraksional, ada baiknya mempertanyakan klaim produsen tentang rasio Strehl teleskopnya dengan menanyakan bagaimana rasio tersebut ditentukan dan seberapa akurat pengukuran tersebut. Statistik yang tidak dapat diverifikasi tidak ada gunanya.

Teleskop Refraktor untuk Pemula

Seperti disebutkan pada pembahasan mengenai jenis-jenis teleskop, tekeskop refraktor memiliki kelemahan utama dalam hal memikiki aberasi kromatik dan aberasi sferis.

Namun, setelah sekian lama hampir diabaikan oleh komunitas amatir, teleskop refraktor kembali populer. Kita menemukan kembali gambar-gambar indah yang terlihat melalui teleskop refraktor berkualitas baik. Pemandangan bulan yang jernih, panorama planet yang sangat tajam, dan bintang-bintang yang sangat jelas semuanya dapat dilihat melalui teleskop refraktor. Semuanya dicapai karena upaya perbaikan kualitas lensa untuk mengurangi kelemahan aberasi yang disebabkan karena desain dan material dari lensa.

Refraktor Akromatik

Salah satu cara yang diupayakan adalah melalui lensa akromatik. Lensa akromatik (atau akromat) adalah lensa optik khusus yang dirancang untuk meminimalkan aberasi kromatik dan sferis dengan menggabungkan dua atau lebih elemen lensa—biasanya kaca mahkota dan kaca flint—untuk memfokuskan panjang gelombang cahaya yang berbeda (biasanya merah dan biru) pada bidang yang sama.

Diagram lensa akromatik

Lensa objektif akromatik sangat membantu dalam menekan aberasi kromatik. Lensa ini dirancang untuk memfokuskan warna merah dan biru—warna di ujung spektrum tampak—pada titik fokus yang sama, dengan warna-warna lain di antaranya berkumpul hampir pada titik fokus yang sama. Dan memang efektif! Bahkan, pada f/15 atau lebih besar, aberasi kromatik secara efektif dihilangkan pada teleskop refraktor ukuran rumahan.

Bahkan pada rasio fokus hingga f/10, aberasi kromatik seringkali tidak terlalu mengganggu jika elemen objektifnya dibuat dengan baik. Teleskop refraktor akromatik berkualitas tinggi yang dijual saat ini memiliki ukuran mulai dari 2,6 inci (66 mm) hingga 11 inci (279 mm). Meskipun sebagian besar aberasi kromatik dapat diatasi secara efektif, cahaya kebiruan atau keunguan yang tersisa seringkali dapat terlihat di sekitar bintang dan planet yang lebih terang. Cahaya ini dikenal sebagai aberasi kromatik residual dan hampir selalu ada pada teleskop refraktor akromatik.

Seberapa jelas warna palsu ini bergantung pada apertur dan rasio fokus teleskop refraktor; warna palsu akan semakin mengganggu seiring dengan peningkatan apertur. Seorang ahli bernama John Sidgwick menawarkan rumus berikut sebagai panduan:

panjang fokal 2,88D2\text{panjang fokal } \geq 2,88 D^2

Apa artinya ini? Sederhananya, aberasi kromatik residual tidak akan menjadi faktor selama panjang fokus (disingkat f.l.) refraktor akromatik lebih besar dari 2,88 kali apertur (D, dalam inci) kuadratnya. Jadi, refraktor 4 inci akan menunjukkan beberapa warna palsu di sekitar objek yang lebih terang jika panjang fokusnya kurang dari 46 inci (f/11,5), sedangkan refraktor 6 inci akan menunjukkan beberapa warna palsu jika lebih pendek dari 103 inci (f/17,3).

Harrie Rutten dan Martin van Venrooij bahkan menyarankan nilai yang bahkan lebih konservatif. Mereka menyarankan agar rasio fokus minimum diatur oleh rumus:

f/ratio(min)0,122Df/ratio_{(min)}\geq0,122 D

Dalam hal ini, bukaan D diukur dalam milimeter. Oleh karena itu, teleskop refraktor akromatik 4 inci (100 mm) harus memiliki bukaan minimal f/12.2 untuk menghilangkan aberasi kromatik, sedangkan teleskop 6 inci harus memiliki bukaan minimal f/18.3.

Aberasi kromatik lebih merusak kualitas gambar daripada sekadar menambahkan warna palsu. Cahaya yang seharusnya berkontribusi pada gambar yang kita persepsikan justru tersebar di area yang lebih luas, menyebabkan kecerahan gambar menurun. Kontras gambar juga menurun akibat penyebaran cahaya. Secara spesifik, area yang lebih gelap menjadi buram karena tumpang tindihnya pinggiran area yang lebih terang di sekitarnya (sebagai contoh, bayangkan sabuk Jupiter atau area gelap di permukaan Mars).

Mengapa hal ini harus diperhatikan? Baru-baru ini, pasar teleskop dibanjiri dengan teleskop refraktor akromatik 4 hingga 6 inci f/8 hingga f/10 yang murah. Janji mereka akan apertur besar (untuk teleskop refraktor) dan gambar yang tajam telah menarik banyak perhatian. Terlepas dari harganya yang rendah, teleskop-teleskop ini terbukti sangat bagus. Ya, ada beberapa warna palsu yang terlihat di sekitar Bulan, planet, dan bintang yang lebih terang, tetapi sebagian besar, itu tidak terlalu mengganggu. Namun, ada beberapa yang belum sepenuhnya siap untuk digunakan secara luas.

Salah satu keunggulan teleskop refraktor adalah bukaan lensanya yang jernih. Artinya, tidak ada yang menghalangi bagian cahaya saat cahaya tersebut bergerak dari lensa objektif ke lensa okuler. Hal ini tidak berlaku untuk teleskop reflektor dan katadioptrik. Begitu cermin sekunder mengganggu jalur cahaya, beberapa kehilangan kontras dan degradasi gambar tidak dapat dihindari.

Selain menghasilkan gambar yang tajam, teleskop refraktor akromatik berukuran kecil—yaitu, hingga mungkin dengan apertur 5 inci—juga terkenal karena portabilitas dan ketahanannya. Jika dibuat dengan benar, teleskop refraktor seharusnya dapat digunakan selama bertahun-tahun tanpa perlu penyelarasan ulang (kolimasi ulang) optiknya. Desain tabung tertutup berarti debu dan kotoran dicegah masuk ke dalam sistem optik, sementara kontaminan dapat dijauhkan dari bagian luar lensa objektif hanya dengan menggunakan penutup lensa.

Kelemahan teleskop refraktor akromatik adalah bukaan lensanya yang kecil. Meskipun hal ini kurang menjadi masalah bagi pengamat bulan, matahari, dan planet, area pengumpulan cahaya yang kecil pada instrumen ini berarti bahwa objek-objek redup seperti nebula dan galaksi akan tampak lebih redup daripada yang terlihat pada teleskop reflektor yang lebih besar namun lebih murah. Selain itu, tabung yang panjang pada teleskop refraktor akromatik yang lebih besar dapat menyulitkan penyimpanan dan pengangkutan ke daerah pedesaan yang gelap.

Masalah lain yang umum terjadi pada teleskop refraktor adalah ketidakmampuannya untuk memberikan sudut pandang yang nyaman pada semua ketinggian di atas cakrawala. Tabung panjang dan tripod pendek yang biasanya disertakan terkadang dapat merugikan pengamat. Misalnya, jika dudukan diatur pada ketinggian yang tepat untuk melihat di dekat zenit, lensa okuler akan berayun tinggi dari tanah segera setelah teleskop diarahkan ke cakrawala.

Kerugian ini dapat sebagian diimbangi dengan memasukkan diagonal bintang di antara tabung tarik teleskop dan lensa okuler, tetapi ini juga memiliki kekurangan tersendiri. Dengan menggunakan cermin atau prisma, diagonal bintang membengkokkan cahaya sebesar 45° atau 90° untuk membuat pengamatan lebih nyaman. Sebagian besar teleskop refraktor astronomi menyertakan diagonal bintang 90°, karena lebih baik untuk pengamatan sudut tinggi, meskipun beberapa instrumen yang juga berfungsi sebagai teleskop pengamatan terestrial menyertakan diagonal 45° sebagai gantinya. Yang terakhir biasanya membalikkan semuanya ke posisi tegak tetapi sedikit meredupkan pandangan dalam prosesnya.

Salah satu gaya refraktor akromatik yang paling populer saat ini adalah yang disebut tabung pendek. Dengan bukaan mulai dari 66 mm hingga 150 mm, teleskop ini semuanya memiliki rasio fokus rendah (rasio f rendah), panjang fokus pendek, dan tabung yang kompak. Meskipun teleskop yang lebih besar mungkin memerlukan upaya yang cukup besar untuk disiapkan, refraktor tabung pendek ideal sebagai instrumen “siap pakai” yang dapat dibawa ke luar ruangan kapan saja untuk menikmati malam yang cerah di tengah minggu.

Teleskop ini dirancang terutama sebagai instrumen bidang pandang lebar, ideal untuk memindai Bima Sakti atau menikmati pemandangan objek langit yang lebih besar dan lebih terang. Karena tidak dimaksudkan untuk pengamatan dengan perbesaran tinggi, instrumen ini tidak cocok untuk mengamati planet seperti desain teleskop lainnya.

Perlu diingat juga bahwa, teleskop ini masih mematuhi hukum optik dan, karenanya, mengalami warna palsu dan aberasi kromatik residual. Kinerjanya tidak dapat dibandingkan dengan refraktor apokromatik yang memiliki bukaan dan panjang fokus serupa. Tentu saja, harganya pun tidak semahal teleskop-teleskop tersebut. Secara khusus, refraktor dengan tabung pendek ideal sebagai teleskop kedua, tetapi jika ini adalah teleskop pertama dan satu-satunya, saya akan merekomendasikan desain lain, kecuali jika Anda tinggal di lantai atas gedung apartemen tanpa lift dan membutuhkan portabilitasnya.

Refraktor Apokromatik

Jika akromatik berarti “tanpa warna,” maka apokromatik dapat didefinisikan sebagai “benar-benar tanpa warna”. Meskipun lensa akromatik memfokuskan dua panjang gelombang cahaya dari ujung spektrum yang berlawanan ke satu titik fokus, lensa ini tetap meninggalkan aberasi kromatik residual di sepanjang sumbu optik. Meskipun tidak mengganggu seperti aberasi kromatik dari lensa tunggal, aberasi kromatik residual tetap dapat mengganggu pengamatan dan fotografi yang kritis.

Apochromat—atau apos, seperti yang dikenal oleh banyak pemiliknya—lebih lanjut menghilangkan aberasi kromatik residual, memungkinkan produsen untuk meningkatkan apertur dan mengurangi panjang fokus. Pertama kali dipopulerkan pada tahun 1980-an, refraktor apochromat menggunakan lensa objektif dua, tiga, atau empat elemen dengan satu atau lebih elemen dari jenis kaca yang tidak biasa—seringkali fluorit, SD (dispersi khusus), atau ED (dispersi sangat rendah). Apochromat meminimalkan dispersi cahaya dengan membawa tiga panjang gelombang cahaya (dan, secara teori, semua panjang gelombang lainnya di antaranya) ke fokus yang sama, mengurangi aberasi kromatik residual secara dramatis, dan dengan demikian memungkinkan panjang fokus yang lebih pendek dan lebih mudah dikelola.

Banyak yang telah ditulis tentang pro dan kontra lensa fluorit (kalsium fluorit monokristalin). Fluorite disebut sebagai mineral paling berwarna di dunia, sering menampilkan nuansa ungu, biru, hijau, kuning, merah jingga, merah muda, putih, dan cokelat yang intens. Tidak seperti kaca optik biasa, yang sebagian besar terbuat dari silika, fluorit dicirikan oleh karakteristik refraksi rendah dan dispersi rendah, yang sempurna untuk menekan aberasi kromatik hingga tingkat yang tidak terdeteksi. Sayangnya, sangat sulit untuk mendapatkan fluorit yang cukup besar untuk lensa, sehingga lensa objektif teleskop (dan lensa kamera, dll.) dibuat dari fluorit yang “ditumbuhkan” melalui teknologi kristalisasi buatan.

Dalam bidang optik, mitos paling populer tentang lensa fluorit adalah bahwa lensa tersebut tidak tahan lama. Beberapa “pakar” mengklaim bahwa fluorit menyerap kelembapan dan/atau lebih mudah retak daripada jenis kaca lainnya. Ini sama sekali tidak benar dalam kondisi normal. Lensa objektif fluorit bekerja sangat baik dan sama awetnya dengan lensa konvensional. Seperti semua lensa, lensa ini akan bertahan seumur hidup jika dirawat dengan baik.

Meskipun daya tahan bukanlah masalah, ada beberapa kendala dalam menggunakan refraktor fluorit. Salah satu masalah dengan fluorit yang tidak banyak diketahui adalah ekspansi termalnya yang tinggi. Ini berarti bahwa elemen fluorit akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyesuaikan diri dengan suhu lingkungan daripada lensa non-fluorit. Optik teleskop sedikit berubah bentuk saat mendingin atau memanas, dan karakteristik ini lebih menonjol pada fluorit daripada pada bahan lain.

Kendala lain juga dialami oleh semua teleskop apokromatik. Seperti kebanyakan refraktor akromatik yang dijual secara komersial, refraktor apokromatik terbatas pada apertur yang lebih kecil, biasanya sekitar 3 hingga 7 inci. Batasan ini bukan karena aberasi yang berlebihan pada apertur yang lebih besar; ini hanyalah masalah ekonomi, yang membawa kita pada kendala kedua (dan terbesar): apokromatik tidak murah! Ketika kita membandingkan harga per inci apertur, segera terlihat bahwa refraktor apokromatik adalah teleskop yang paling mahal. Dengan jenis pemasangan dan aksesori yang sama, refraktor apokromatik dapat dijual dengan harga lebih dari dua kali lipat harga akromatik yang sebanding. Itu perbedaan yang besar, tetapi perbedaan kualitas gambar bisa jauh lebih besar. Untuk teleskop pertama, refraktor akromatik sudah cukup baik, tetapi jika ini akan menjadi teleskop “impian” utama Anda, maka Anda harus mempertimbangkan apokromatik.

Teleskop Reflektor untuk Pemula

Teleskop reflektor menawarkan alternatif untuk teleskop refraktor yang memiliki bukaan kecil dan harga mahal. Mari kita bandingkan. Setiap dari dua atau lebih elemen dalam lensa objektif teleskop refraktor harus dibentuk secara akurat dan terbuat dari kaca homogen berkualitas tinggi. Sebaliknya, permukaan optik tunggal dari cermin primer dan sekunder teleskop reflektor memungkinkan pembuatan bukaan besar dengan harga yang relatif terjangkau.

Keunggulan besar lainnya yang dimiliki teleskop reflektor dibandingkan teleskop refraktor adalah bebas dari aberasi kromatik (aberasi kromatik adalah sifat pembiasan cahaya, bukan pemantulan). Ini berarti bahwa hanya warna asli dari apa pun objek yang dibidik oleh teleskop reflektor akan terlihat jelas. Tentu saja, lensa okuler yang digunakan untuk memperbesar gambar bagi mata kita menggunakan lensa, jadi kita belum sepenuhnya terbebas dari masalah ini.

Dua kelebihan penting ini seringkali cukup untuk membujuk para amatir agar memilih teleskop reflektor. Mereka merasa bahwa meskipun ada kekurangan pada desainnya, kekurangan tersebut diimbangi oleh banyak kelebihan yang dimilikinya. Tetapi apa sebenarnya masalah-masalah pada teleskop reflektor? Beberapa masalah khusus terjadi pada jenis tertentu, sementara yang lain memengaruhi semua jenis teleskop.

Salah satu kekurangan umum pada semua teleskop jenis ini adalah fakta sederhana bahwa cermin tidak memantulkan semua cahaya yang mengenainya. Seberapa banyak cahaya yang hilang bergantung pada jenis lapisan reflektif yang digunakan. Misalnya, sebagian besar cermin teleskop dilapisi dengan lapisan tipis aluminium dan dilapisi lagi dengan lapisan silikon monoksida bening untuk perlindungan tambahan terhadap goresan dan korosi. Kombinasi ini memantulkan sekitar 89% cahaya tampak. Kedengarannya bagus, tetapi untuk cermin primer dan sekunder dengan lapisan aluminium standar, reflektivitas gabungannya hanya 79% dari cahaya yang mengenai cermin primer! Itulah mengapa lapisan khusus yang ditingkatkan menjadi populer dalam beberapa tahun terakhir. Lapisan yang ditingkatkan meningkatkan reflektivitas sistem secara keseluruhan hingga antara 90% dan 96%. Namun, beberapa orang mengatakan bahwa lapisan yang ditingkatkan menyebarkan cahaya, yang pada gilirannya mengurangi kontras gambar. Jika demikian, penurunan tersebut minimal.

Reflektor juga kehilangan sebagian cahaya dan, terutama, kontras gambar karena terhalang oleh cermin sekunder. Seberapa banyak cahaya yang terhalang dan kontras yang hilang bergantung pada ukuran cermin sekunder, yang pada gilirannya bergantung pada panjang fokus cermin utama. Keduanya harus disesuaikan dengan benar untuk memaksimalkan aliran cahaya ke lensa mata.

Cermin sekunder yang terlalu besar akan menghalangi bukaan penuh teleskop secara tidak perlu, sehingga merusak kontras gambar, sementara cermin sekunder yang terlalu kecil mengurangi bukaan efektif teleskop. Secara umum, semakin pendek panjang fokus cermin utama, semakin besar cermin sekundernya agar dapat memantulkan semua cahaya ke lensa okuler

Namun, menurut tradisi, hambatan pusat dinyatakan sebagai persentase dari diameter apertur, bukan luasnya. Oleh karena itu, reflektor dengan hambatan pusat 10% berdasarkan luas disebut memiliki hambatan 16% berdasarkan diameter. Keduanya merujuk pada hambatan yang berukuran 1,27 inci. Cermin utama dengan rasio fokus yang sangat cepat dapat memiliki hambatan pusat sekitar 20%, bahkan 25%. Satu-satunya reflektor yang tidak mengalami masalah ini disebut sebagai reflektor off-axis. Desain off-axis klasik meliputi Herschelian dan anggota keluarga instrumen Schiefspeigler.

Sejak gagasan teleskop yang menggunakan cermin untuk memfokuskan cahaya pertama kali dikemukakan pada tahun 1663, berbagai desain telah muncul dan menghilang. Saat ini, dua desain terus bertahan hingga saat ini: reflektor Newtonian dan reflektor Cassegrain.

Teleksop Reflektor Newtonian

Untuk kemampuan pengumpulan cahaya yang sangat besar, teleskop reflektor Newtonian adalah pilihan terbaik. Tidak ada jenis teleskop lain yang akan memberi kita bukaan sebesar itu dengan harga yang sama. Dengan dudukan/ mounting bergaya serupa, kita dapat membeli teleskop reflektor Newtonian 8 inci dengan jumlah uang yang sama yang dibutuhkan untuk teleskop refraktor akromatik 4 inci. Model komersial berkisar dari 3 inci hingga lebih dari 2 kaki diameternya, dengan rasio fokus mulai dari f/3,5 hingga sekitar f/10. (Tentu saja, tidak semua bukaan tersedia pada semua rasio fokus. Dapatkah kita bayangkan memanjat lebih dari 20 kaki ke lensa mata teleskop 24 inci f/10!)

Untuk keperluan diskusi, disini kita telah membagi teleskop Newtonian menjadi dua kelompok berdasarkan rasio fokus. Instrumen dengan rasio fokus kurang dari f/6 memiliki cermin yang sangat melengkung, dan karenanya disebut di sini sebagai teleskop Newtonian piringan dalam (deep-dish Newtonian). Teleskop reflektor dengan rasio fokus f/6 dan lebih besar akan disebut teleskop piringan dangkal (shallow-dish telescope).

Teleskop reflektor piringan dangkal menjadi jenis teleskop favorit banyak orang. Teleskop ini mampu memberikan pandangan yang jelas tentang Bulan, Matahari, dan anggota tata surya lainnya, serta ribuan objek langit dalam. Teleskop reflektor piringan dangkal dengan bukaan antara 3 inci (80 mm) dan 8 inci (203 mm) biasanya cukup kecil untuk dipindahkan dari rumah ke lokasi pengamatan dan dipasang dengan cepat tanpa banyak kesulitan. Setelah pengamatan dimulai, sebagian besar pengamat amatir dengan senang hati mendapati bahwa melihat melalui lensa mata dan teleskop pencari kecil sangat mudah karena ketinggian teleskop hampir sama dengan ketinggian mata pengamat.

Teleskop Newtonian 6 inci f/8 masih menjadi salah satu teleskop serbaguna terbaik bagi mereka yang baru mengenal astronomi. Ukurannya cukup kompak sehingga tidak merepotkan untuk diangkut dan dirakit, namun cukup besar untuk memberikan pengalaman yang mengasyikkan selama bertahun-tahun—dan semuanya dengan harga yang wajar. Lebih baik lagi adalah teleskop Newtonian 8 inci f/6 hingga f/9. Bukaan yang lebih besar memungkinkan pengamatan objek malam hari yang lebih detail. Namun, perlu diingat bahwa seiring bertambahnya bukaan, ukuran dan berat teleskop juga bertambah. Ini berarti bahwa kecuali Anda tinggal di pedesaan dan dapat menyimpan teleskop Anda di tempat yang mudah diakses, teleskop reflektor dengan piringan dangkal yang lebih besar dari 8 inci mungkin akan sulit dikelola.

Sebagian besar pengamat berpengalaman setuju bahwa reflektor piringan dangkal sulit dikalahkan. Bahkan, reflektor Newtonian yang dioptimalkan dapat memberikan pemandangan Bulan dan planet-planet yang lebih baik daripada yang terlihat melalui teleskop katadioptrik dan dapat dibandingkan dengan refraktor dengan ukuran serupa, tetapi dengan biaya yang jauh lebih murah. Meskipun pasar teleskop komersial sekarang menawarkan berbagai macam refraktor yang luar biasa, pasar tersebut belum sepenuhnya merangkul reflektor fokus panjang.

Meskipun teleskop reflektor dengan piringan dangkal memberikan pemandangan planet dan Bulan yang bagus, ukurannya menjadi sangat besar seiring bertambahnya apertur (kami para veteran masih ingat teleskop 12,5 inci f/8!). Lensa okuler teleskop reflektor 18 inci f/4,5 berada sekitar 78 inci dari permukaan tanah, sedangkan teleskop 18 inci f/8 akan menjulang hampir 12 kaki! Itulah mengapa sebagian besar teleskop Newtonian 10 inci dan yang lebih besar memiliki rasio fokus yang relatif cepat, sehingga termasuk dalam kategori piringan dalam.

Banyak teleskop Newtonian dengan apertur besar menggunakan cermin utama berpenampang tipis. Secara tradisional, cermin utama memiliki rasio diameter terhadap ketebalan 6:1. Ini berarti bahwa cermin 12 inci memiliki ketebalan penuh 2 inci. Itu adalah potongan kaca yang sangat berat untuk ditopang. Cermin berpenampang tipis mengurangi rasio ini menjadi sekitar 12:1, mengurangi beratnya hingga 50%. Hal ini terdengar bagus pada awalnya, tetapi praktik menunjukkan bahwa cermin besar dan tipis cenderung melengkung karena beratnya sendiri (cermin yang lebih tebal lebih kaku), sehingga mendistorsi kurva parabola, ketika dipegang dalam sel cermin tiga titik konvensional. Untuk mencegah cermin melengkung, diperlukan sistem penyangga yang lebih baik untuk menopang cermin utama pada sembilan (atau lebih) titik yang berjarak sama di permukaan belakangnya. Sel-sel ini sering disebut sistem pengapungan cermin, karena tidak menjepit di sekitar tepi cermin, sehingga mencegah kemungkinan distorsi tepi akibat penjepitan. Banyak teleskop reflektor Dobsonian premium menggunakan sel utama yang menopang tepi cerminnya dengan tali atau selempang anyaman yang mirip dengan yang digunakan pada kursi lipat taman. Yang lain memiliki sistem penyangga yang lebih rumit (meskipun belum tentu lebih baik) yang menahan cermin dengan aman, tanpa benar-benar mencengkeramnya secara fisik.

Jika bukaan besar berarti gambar terang, mengapa tidak membeli teleskop dengan bukaan terbesar yang tersedia? Sebenarnya, ada beberapa alasan untuk tidak melakukannya. Pertama, kecuali jika dibuat dengan sangat baik, teleskop Newtonian (terutama yang memiliki panjang fokus pendek) rentan terhadap beberapa ketidakaturan optik, termasuk aberasi sferis, astigmatisme, dan koma.

Aberasi sferis terjadi ketika sinar cahaya dari tepi cermin (atau lensa) yang dibuat tidak tepat berfokus ke titik yang sedikit berbeda dibandingkan dengan sinar dari pusat optik. Secara umum, semakin cepat rasio fokus cermin utama, semakin besar kebutuhan akan kurva parabola yang akurat. Rasio fokus yang lebih lambat lebih toleran. Bahkan, cermin parabola mungkin tidak diperlukan sama sekali. Beberapa reflektor Newtonian akan bekerja dengan sempurna dengan cermin sferis, yang jauh lebih mudah (dan, oleh karena itu, lebih murah) untuk dibuat. Dalam karya klasiknya, penulis Jean Texereau merekomendasikan rumus yang diturunkan oleh André Couder yang menghitung panjang fokus minimum untuk apertur tertentu agar cermin utama sferis memenuhi Kriteria Rayleigh, dan, oleh karena itu, menghasilkan gambar yang memuaskan. Rumusnya berbunyi:

f.l.3=88,6A4f.l.^3=88,6 A^4

di mana A adalah bukaan teleskop dan f.l. adalah panjang fokus, keduanya dinyatakan dalam inci.

Seperti yang kita lihat, seiring bertambahnya apertur, panjang fokus minimum yang dapat diterima juga meningkat, dan cukup cepat. Beberapa produsen (terutama dari Taiwan dan Tiongkok) memasok beberapa teleskop mereka dengan cermin bulat. Meskipun secara umum tampaknya berfungsi cukup baik, semuanya cukup dekat dengan nilai minimum yang tercantum dalam tabel di bawah. Oleh karena itu, berhati-hatilah saat mendekati teleskop dengan rasio fokus di bawah nilai-nilai dalam tabel di bawah yang mengklaim menggunakan cermin bulat.

Apertur (inchi/mm)Panjang fokal minimun (inchi/mm)Focal ration (f.l./A)
3,0 / 7619 / 4836,3
4,5 / 11433 / 8387,3
6,0 / 15249 / 12458,2
8,0 / 20371 / 18039,0
10,0 / 25496 / 24389,0

Astigmatisme disebabkan oleh cermin atau lensa yang tidak diasah secara simetris di sekitar pusatnya atau oleh optik yang tidak sejajar atau bahkan tertekan. Banyak teleskop reflektor menunjukkan astigmatisme yang kuat hanya karena cermin sekundernya tidak sejajar dengan benar. Hasilnya: citra bintang yang memanjang yang tampak membalik orientasinya sebesar 90° ketika lensa okuler digerakkan dari satu sisi titik fokus ke sisi lainnya. Koma, terutama terlihat pada teleskop parabola dalam, terlihat ketika bintang-bintang di dekat tepi bidang pandang terdistorsi menjadi gumpalan kecil menyerupai komet, sementara bintang-bintang di tengah tampak sebagai titik-titik tajam. Dengan adanya salah satu atau semua ketidaksempurnaan ini, resolusi akan sangat menurun. (Perhatikan bahwa koma dapat dihilangkan dengan menggunakan korektor koma).

Baik teleskop Newtonian dengan piringan dangkal maupun piringan dalam memiliki banyak kekurangan lainnya. Salah satu yang paling merepotkan adalah, dari semua jenis teleskop, teleskop Newtonian termasuk yang paling rentan terhadap masalah kolimasi. Jika salah satu atau kedua cermin tidak sejajar dengan benar, kualitas gambar akan sangat menurun, bahkan mungkin sampai membuat teleskop tidak dapat digunakan. Sayangnya, banyak teleskop reflektor komersial dikirim dengan cermin yang tidak sejajar. Pemilik baru, mungkin karena kurang pengetahuan, langsung menganggap kinerja teleskop yang buruk sebagai akibat dari optik yang buruk. Namun kenyataannya, optiknya mungkin baik-baik saja, hanya sedikit tidak sejajar. Kebutuhan akan penyelarasan yang tepat menjadi semakin penting seiring dengan mengecilnya rasio fokus cermin utama, sehingga sangat penting untuk memeriksa ulang kolimasi di awal setiap sesi pengamatan jika teleskop Anda memiliki f/6 atau kurang. Beberapa pengamat bahkan memeriksa ulang kolimasi selama sesi pengamatan, terutama jika mereka menggunakan teleskop besar di daerah yang mengalami penurunan suhu yang signifikan di malam hari.

Ada kalanya, meskipun optiknya sudah disejajarkan dengan baik, kualitas gambar tetap kurang memuaskan. Di sini, kesalahannya jelas terletak pada salah satu atau kedua cermin itu sendiri. Seperti pepatah, ada harga ada kualitas, dan itu berlaku untuk teleskop seperti halnya barang lainnya. Jelas, produsen model berbiaya rendah harus memangkas pengeluaran mereka di suatu tempat agar dapat menawarkan harga lebih rendah daripada pesaing mereka. Pemangkasan ini biasanya ditemukan pada peralatan standar berkualitas rendah yang disertakan dengan instrumen tersebut, tetapi terkadang juga dapat memengaruhi prosedur pengujian optik dan kontrol kualitas.

Teleksop Reflektor Cassegrain

Meskipun tidak pernah mencapai popularitas luas di kalangan astronom amatir seperti teleskop Newtonian, teleskop reflektor Cassegrain selalu dianggap sebagai instrumen yang sangat mumpuni. Teleskop Cassegrain dicirikan oleh panjang fokus yang panjang, sehingga sangat cocok untuk aplikasi berdaya tinggi dan beresolusi tinggi seperti studi matahari, bulan, dan planet. Meskipun teleskop Newtonian juga dapat dibuat dengan rasio fokus ini, pengamat harus menempuh jarak yang jauh untuk mencapai lensa okuler mereka! Tidak demikian halnya dengan teleskop Cassegrain, di mana lensa okuler terletak dengan nyaman di belakang cermin utama.

Panjang fokus teleskop Cassegrain yang besar tidak dihasilkan oleh cermin utama (yang biasanya berkisar sekitar f/4) tetapi oleh cermin sekunder cembung dan hiperbolik. Saat memantulkan cahaya dari cermin utama kembali ke lensa mata, cermin sekunder cembung sebenarnya memperbesar gambar, sehingga memperpanjang rasio fokus efektif teleskop menjadi antara f/10 dan f/20. Hasil akhirnya adalah teleskop yang jauh lebih ringkas dan mudah dikelola daripada teleskop Newtonian dengan apertur dan panjang fokus yang setara.

Sayangnya, meskipun cermin sekunder cembung memberikan kekompakan yang luar biasa pada teleskop Cassegrain, cermin ini juga berkontribusi pada banyak kelemahan terbesar teleskop tersebut. Pertama, untuk memantulkan semua cahaya dari cermin utama kembali ke lensa mata, cermin sekunder harus ditempatkan cukup dekat dengan cermin utama. Hal ini memaksa diameternya menjadi jauh lebih besar daripada diagonal datar teleskop Newtonian. Dengan cermin sekunder yang menghalangi lebih banyak cahaya, ketajaman dan kontras gambar menurun. Kedua, cermin sekunder cembung yang dikombinasikan dengan cermin utama fokus pendek membuat penyelarasan optik menjadi sangat penting, sementara pada saat yang sama menyebabkan teleskop lebih sulit untuk dikolimasi daripada teleskop Newtonian yang serupa. Terakhir, teleskop Cassegrain rentan terhadap koma seperti halnya teleskop Newtonian dengan piringan dalam, sehingga mustahil untuk mencapai fokus tajam di sekitar tepi bidang pandang.

Penempatan lensa okuler di sepanjang sumbu optik juga dapat memengaruhi kinerja instrumen. Keberatan yang paling jelas akan menjadi sangat nyata saat pertama kali pengamat mengarahkan teleskop Cassegrain mendekati zenit dan mencoba melihat melalui lensa okuler. Itu bisa sangat mengganggu, meskipun penggunaan diagonal bintang akan membantu mengurangi masalah tersebut. Masalah lain yang mungkin tidak begitu jelas melibatkan polusi cahaya lokal, yang disebabkan oleh cahaya asing yang melewati cermin sekunder dan membanjiri bidang pandang. Untuk mengatasi masalah ini, produsen selalu memasang tabung penyekat panjang yang menonjol di depan cermin utama. Ukuran penyekat sangat penting, karena harus melindungi bidang lensa okuler dari semua sumber cahaya insidental sambil memungkinkan semua cahaya dari target untuk bersinar.

Kita akan melihat bahwa ada tiga jenis reflektor yang tercantum. Selain Cassegrain Klasik yang dijelaskan di sini, ada varian Ritchey-Chrétien dan Dall-Kirkham. Cassegrain Klasik terganggu oleh koma di tepi bidang pandang, yang terbukti sangat menyulitkan untuk astrofotografi. Dalam karya perintisnya selama tahun 1910-an, perancang optik Amerika George Ritchey, dengan bantuan ilmuwan optik Prancis Henri Chrétien, menemukan bahwa dengan mengubah kurva cekung pada cermin utama dari paraboloid menjadi hiperboloid, dan memodifikasi cermin sekunder hiperbolik agar sesuai, ia mampu mengurangi koma secara signifikan. Penyesuaian ini juga memungkinkan Ritchey menurunkan rasio fokus teleskop, dari sekitar f/15 untuk Cassegrain Klasik, menjadi sekitar f/8 atau f/9.

Penelusuran menunjukkan bahwa reflektor Ritchey-Chrétien adalah jenis yang langka di kalangan astronom amatir, karena mahalnya pembuatan optik asferisnya yang kompleks. Pada tahun 2005, Meade Instruments memperkenalkan lini reflektor RCX400 yang diiklankan sebagai Ritchey-Chrétien. Teleskop ini adalah teleskop hibrida yang menggabungkan cermin utama berbentuk bola dengan pelat korektor yang dirancang khusus yang secara kolektif mengubah cahaya sedemikian rupa sehingga pada saat mencapai cermin sekunder hiperbolik, cahaya tersebut secara efektif dilemahkan seperti pada Ritchey-Chrétien murni (yang tidak memerlukan pelat korektor).

Reflektor Dall-Kirkham Cassegrain menggunakan cermin utama elipsoidal yang dimodifikasi dan cermin sekunder berbentuk bola. Kurva ini terbukti jauh lebih mudah dan murah untuk dibuat daripada Ritchey-Chrétien. Jika dirancang dengan benar, reflektor Dall-Kirkham dapat menghasilkan gambar yang sangat tajam, tetapi hanya pada bidang pandang yang kecil. Jika terlalu jauh dari sumbu fokus, koma akan muncul. Seberapa kuat koma tersebut bergantung pada panjang fokus cermin utama, tetapi secara umum, semakin pendek panjang fokus cermin utama, semakin besar koma di luar sumbu fokus. Rasio fokus keseluruhan biasanya tidak kurang dari f/11, dengan hasil terbaik dicapai seiring peningkatan rasio fokus.

Meskipun teleskop Cassegrain tetap menjadi jenis teleskop yang paling umum di observatorium profesional, popularitasnya di kalangan astronom amatir saat ini rendah. Jadi, tidak mengherankan jika hanya sedikit perusahaan yang menawarkan sistem Cassegrain lengkap untuk para penghobi.

Teleskop Katadioprik untuk Pemula

Kita sebagai astronom amatir pemula lebih menyukai mencari teleskop kompak dengan desain hibrida yang menggabungkan beberapa atribut terbaik dari teleskop reflektor dan refraktor, menciptakan jenis teleskop yang sama sekali berbeda: teleskop katadioptrik. Teleskop katadioptrik (juga dikenal sebagai teleskop gabungan) relatif baru di kalangan astronom amatir. Namun hanya dalam beberapa dekade, teleskop ini telah mengembangkan pengikut setia dari para astronom rumahan yang dengan gigih membela teleskop ini sebagai teleskop terbaik.

Sebagian besar pencinta teleskop katadioptrik termasuk dalam satu, dua, atau mungkin ketiga kategori berikut:

  1. Astronom perkotaan atau urban yang lebih suka bepergian ke lokasi pengamatan terpencil.
  2. Penikmat astrofotografi (atau setidaknya bercita-cita untuk mencobanya).
  3. Mereka sangat menyukai gadget.

Jika salah satu atau semua profil ini sesuai dengan Anda, maka teleskop katadioptrik mungkin adalah teleskop yang sempurna untuk Anda.

Teleskop katadioptrik untuk penggunaan visual dapat dibuat dalam konfigurasi Newtonian atau Cassegrain. Empat desain katadioptrik telah memberikan dampak yang signifikan pada dunia astronomi amatir: Schmidt-Cassegrain, Schmidt-Newtonian, Maksutov-Cassegrain, dan Maksutov-Newtonian. Teleskop katadioptrik bergaya Cassegrain langsung dapat dikenali dari posisi fokusnya di belakang cermin utama, seperti reflektor Cassegrain. Teleskop katadioptrik berbasis Newtonian menempatkan fokusnya di bagian depan tabung, seperti reflektor Newtonian tradisional. Untuk pembahasan di sini, diskusi akan dibatasi pada desain-desain ini.

Teleskop Schmidt-Cassegrain

Coba lihat hampir semua majalah astronomi yang diterbitkan di mana saja di dunia, dan kita pasti akan menemukan setidaknya satu iklan untuk teleskop Schmidt-Cassegrain (juga dikenal sebagai Schmidt-Cas atau SCT). Saat mata menikmati iklan-iklan yang penuh dengan foto-foto benda langit yang menakjubkan yang diambil melalui instrumen ini, kita tiba-tiba merasakan keinginan yang tak tertahankan untuk segera pergi dan membelinya. Kita bukanlah orang pertama yang menganggap teleskop ini begitu menarik. Meskipun teleskop Schmidt-Cassegrain tersedia dalam ukuran bukaan dari 5 inci hingga 16 inci, ukuran yang paling disukai adalah model 8 inci.

Apakah teleskop Schmidt-Cassegrain adalah teleskop yang sempurna? Memang, teleskop ini bisa sangat menarik. Keunggulan terbesarnya adalah desainnya yang ringkas. Tidak ada teleskop lain yang dapat memuat bukaan sebesar dan panjang fokus sepanjang teleskop Schmidt-Cassegrain ke dalam tabung yang begitu pendek (biasanya hanya sekitar dua kali lebih panjang dari bukaannya). Jika penyimpanan dan pengangkutan teleskop Anda menjadi perhatian utama, maka ini akan menjadi keuntungan yang sangat penting.

Berikut poin lain yang menguntungkan pemakai SCT. Tidak ada yang dapat mengakhiri sesi pengamatan lebih cepat daripada pengamat yang kelelahan. Misalnya, menggunakan reflektor Newtonian, dengan lensa okuler yang terletak di ujung depan tabung, biasanya berarti pengamat harus tetap berdiri—kadang-kadang bahkan di atas bangku atau tangga—hanya untuk mengintip. Bandingkan ini dengan teleskop Schmidt-Cassegrain, di mana pengamat dapat menikmati pengamatan yang nyaman dan duduk dari hampir semua titik di langit. Punggung dan kaki kita pasti akan berterima kasih! Lensa okuler hanya sulit dijangkau ketika teleskop diarahkan dekat ke zenit. Seperti halnya refraktor dan Cassegrain, diagonal bintang siku-siku yang ditempatkan di fokus sebelum lensa okuler akan sedikit membantu, tetapi ini juga memiliki kekurangannya. Yang paling menjengkelkan adalah diagonal akan membalik semuanya dari kanan ke kiri, menciptakan gambar cermin yang membuat tampilan sulit dibandingkan dengan peta bintang.

Keunggulan besar lainnya dari teleskop Schmidt-Cassegrain adalah tabungnya yang tertutup rapat. Pelat korektor depan berfungsi sebagai pelindung untuk mencegah kotoran, debu, dan kontaminan asing lainnya menempel pada cermin utama dan sekunder. Ini sangat berguna jika Anda sering bepergian dengan teleskop dan terus-menerus memasukkan dan mengeluarkannya dari tas pembawa. Tabung yang tertutup rapat juga dapat membantu memperpanjang umur pakai lapisan aluminisasi cermin dengan menyegelnya dengan baik terhadap unsur-unsur lingkungan. (Selalu pastikan cermin kering sebelum menyimpan teleskop untuk mencegah timbulnya jamur dan lumut.)

Meskipun korektor melindungi kedua cermin dari kontaminasi debu, ia memperlambat teleskop mencapai keseimbangan termal dengan udara malam dan juga dapat bertindak sebagai pengumpul embun. Tergantung pada kondisi cuaca setempat, korektor dapat berkabut dalam hitungan jam atau bahkan menit, atau mungkin tetap jernih sepanjang malam. Untuk membantu mengatasi embun, produsen menjual penutup embun atau pelindung embun. Penutup embun adalah aksesori yang wajib dimiliki untuk semua teleskop katadioptrik berbasis Cassegrain.

Sejauh ini terdengar bagus, bukan? Nah, bagaimana dengan kinerja optik teleskopnya? Di sinilah teleskop Schmidt-Cassegrain mulai goyah. Karena cermin sekunder yang relatif besar yang dibutuhkan untuk memantulkan cahaya kembali ke lensa okuler, SCT menghasilkan gambar yang memiliki kontras lebih rendah daripada beberapa desain teleskop lain dengan apertur yang sama. SCT 8 inci tipikal memiliki dudukan cermin sekunder yang berukuran sekitar 2,75 inci. Itu berarti penghalang pusat sebesar 34%! Ini bisa sangat penting ketika mencari detail planet yang halus atau ketika berburu objek langit dalam yang redup di ambang batas visibilitas. Lapisan optik yang ditingkatkan yang tersedia pada semua model populer meningkatkan transmisi cahaya dan mengurangi hamburan. Lapisan ini dapat membuat perbedaan antara melihat objek yang hampir tidak terlihat dan melewatkannya, dan ini mutlak diperlukan untuk semua Schmidt-Cassegrain. Namun demikian, pengamatan planet, yang membutuhkan gambar tajam dan kontras tinggi, kurang optimal pada Schmidt-Cassegrain.

Ketajaman gambar pada teleskop Schmidt-Cassegrain seringkali tidak setepat yang diperoleh melalui teleskop refraktor atau reflektor. Mungkin ini disebabkan oleh hilangnya kontras yang disebutkan sebelumnya atau karena ketidaksejajaran optik, masalah umum lain pada teleskop Schmidt-Cassegrain. Pada teleskop apa pun, ketidaksejajaran optik akan merusak kualitas gambar. Apa yang harus Anda lakukan jika optik teleskop Schmidt-Cassegrain tidak sejajar? Jika hanya cermin sekunder yang tidak sejajar, kita bisa menyelaraskannya sendiri. Tetapi jika cermin utama tidak sejajar, kita harus mengembalikan teleskop ke pabrikan untuk diperbaiki.

Secara umum, teleskop Schmidt-Cassegrain menawarkan nilai yang sangat baik untuk uang yang dikeluarkan (value for money). Bahkan, dengan memperhitungkan inflasi, harga SCT saat ini lebih murah daripada saat pertama kali diperkenalkan pada tahun 1970. Teleskop Schmidt-Cassegrain menawarkan tampilan Matahari, Bulan, planet, dan objek langit dalam yang dapat diterima, dan berfungsi cukup baik untuk astrofotografi (walaupun bintang sering tampak membesar dalam eksposur panjang). Tetapi untuk tampilan objek langit yang lebih detail, SCT kalah dibandingkan jenis teleskop lain. Untuk pengamatan anggota tata surya, sulit untuk mengalahkan teleskop Newtonian dengan piringan dangkal (terutama f/8 atau lebih tinggi) atau refraktor yang bagus, sementara banyak objek langit dalam yang redup paling baik dilihat dengan teleskop Newtonian dengan apertur besar dan piringan dalam. Teleskop Schmidt-Cassegrain adalah teleskop serba bisa tetapi tidak unggul dalam satu bidang pun.

Teleskop Schmidt-Newtonian

Sekilas, teleskop katadioptrik ini tampak seperti teleskop Newtonian konvensional. Namun, jika dilihat lebih teliti, teleskop Schmidt-Newtonian menggunakan cermin utama berbentuk bola dan pelat korektor depan, bukan cermin utama paraboloid yang ditemukan pada teleskop Newtonian tradisional berkualitas tinggi, untuk mengumpulkan cahaya dan memfokuskannya dengan tajam. Hasilnya adalah teleskop dengan rasio fokus cepat yang menunjukkan astigmatisme dan koma di tepi bidang pandang jauh lebih sedikit daripada teleskop Newtonian tradisional dengan apertur dan panjang fokus yang sama. Kombinasi ini menjadikan model ini ideal untuk astrofotografi bidang luas melalui teleskop dan untuk pengamatan visual.

Banyak kelebihan dan kekurangan teleskop Schmidt-Cassegrain berlaku langsung pada teleskop Schmidt-Newtonian. Seperti teleskop SCT, tabung tertutup memiliki keunggulan dalam mencegah debu dan kotoran menempel pada optik, yang selalu merupakan hal yang baik. Namun, pada saat yang sama, hal itu juga memperlambat waktu pendinginan ketika teleskop pertama kali dibawa keluar dari rumah yang hangat. Pelat korektor juga memerlukan beberapa bentuk pencegahan embun aktif agar tidak berembun pada malam yang lembap.

Secara optik, teleskop Schmidt-Newtonian dirancang untuk menghasilkan bidang pandang yang luas. Akibatnya, instrumen ini lebih cocok untuk pengamatan benda langit dalam dengan perbesaran rendah hingga menengah, perburuan komet, dan astrofotografi. Aplikasi perbesaran tinggi, seperti studi detail Bulan dan planet, kurang memuaskan dengan jenis instrumen ini. Lapisan tambahan opsional (sangat direkomendasikan) menghasilkan gambar yang cemerlang, tetapi kontras berkurang karena penghalang pusat yang besar yang biasanya diperlukan dalam desain ini. Namun perlu diingat bahwa kolimasi, terutama cermin sekunder, sangat penting dalam teleskop Schmidt-Newtonian. Jika kolimasi tidak tepat, astigmatisme dan koma akan mengurangi ketajaman gambar bintang dan menghasilkan tampilan yang kurang memuaskan.

Teleskop Maksutov

Perhentian terakhir dalam tur dunia teleskop kita adalah teleskop katadioptrik Maksutov. Banyak orang merasa bahwa teleskop Maksutov adalah teleskop terbaik dari semuanya. Dan mengapa tidak? Maksutov memberikan pemandangan Bulan, Matahari, dan planet-planet yang menyaingi teleskop refraktor dan reflektor fokus panjang terbaik, dan mudah diadaptasi untuk astrofotografi (meskipun rasio fokusnya yang tinggi berarti waktu pencahayaan lebih lama daripada teleskop yang lebih cepat dengan bukaan serupa). Model yang lebih kecil juga mudah dibawa bepergian.

Teleskop Maksutov hadir dalam konfigurasi Newtonian dan Cassegrain, yang terakhir lebih umum. Biasanya, teleskop Maksutov-Cassegrain memiliki rasio fokus lebih besar dari f/10, sehingga lebih cocok untuk pengamatan planet dengan perbesaran tinggi serta berburu objek langit dalam yang kecil. Seperti SCT, desainnya yang ringkas membuat teleskop Maksutov-Cassegrain sangat populer di kalangan pengamat yang menginginkan kenyamanan instrumen dengan tabung pendek yang mampu memberikan pandangan Bulan dan planet yang setajam teleskop refraktor. Seperti SCT, kenyamanan pengamatan dari posisi duduk juga menjadi nilai tambah.

Teleskop Maksutov-Newtonian, dengan rasio fokus yang lebih cepat, biasanya sekitar f/6, adalah instrumen serbaguna yang sangat baik. Meskipun teleskop ini unggul dalam pengamatan benda langit dalam serta astrofotografi terpandu, jangan salah—Mak-Newt yang dibuat dengan baik juga akan menampilkan pemandangan planet yang menakjubkan.

Apakah ada kekurangan pada teleskop Maksutov? Sayangnya, ada. Karena pelat korektor yang tebal di bagian depan, teleskop Maksutov membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan udara malam yang dingin dibandingkan jenis teleskop umum lainnya. Teleskop tidak akan bekerja optimal sampai suhunya menyamai suhu udara luar. Untuk mempercepat proses ini, beberapa perusahaan memasang kipas, tetapi optiknya tetap lambat mencapai keseimbangan termal. Beberapa teleskop Maksutov—terutama instrumen Questar—juga lebih mahal per inci aperturnya daripada hampir semua jenis teleskop lainnya. Selain itu, ada masalah dengan pelat korektor, yang seperti optik terbuka lainnya, dapat bertindak sebagai magnet embun jika tidak dilindungi oleh sistem anti-embun.

Rangkuman Jenis Teleskop untuk Pemula

Berikut adalah rangkuman keterangan keunggulan dan kelemahan jenis-jenis teleskop yang telah kita bahas di atas sebelumnya.

JenisKeuntunganKerugian
Binokuler
Biasanya bukaan berukuran 1,4” (35 mm) hingga 3,9” (100 mm)
Sebagian besar relatif murah

Sangat portabel

Bidang pandang yang luas membuatnya ideal untuk pemindaian
Daya rendah membuat teleskop ini tidak cocok untuk objek yang membutuhkan perbesaran tinggi.

Apertur kecil membatasi batas magnitudo.
Refraktor Akromatik
Biasanya berukuran 2,6” (66 mm) hingga 6” (152 mm), f/5 ke atas.
Portabel dengan bukaan lebih kecil

Gambar tajam
Harga sedang dibandingkan dengan bukaan

Baik untuk bulan, matahari, planet, bintang ganda, dan astrofotografi objek terang
Bukaan kecil

Dudukan mungkin goyah (perhatian, pembeli di department store!)

Potensi aberasi kromatik
Refraktor Apokromatik
Biasanya bukaan lensa 2,4” (60 mm) hingga 7” (178 mm), f/5 ke atas.
Portabel dengan bukaan yang lebih kecil

Gambar sangat tajam dan kontras

Sangat baik untuk obervasi bulan, matahari, planet, bintang ganda, dan astrofotografi
Biaya sangat tinggi dibandingkan dengan bukaan

Apertur kecil (untuk harga tersebut) membatasi penetrasi magnitudo
Teleskop Newtonian Piringan Dangkal
Biasanya bukaan lensa 2,4” (60 mm) hingga 7” (178 mm), f/5 ke atas.
Murah per lebar bukaan dibandingkan jenis teleskop lain

Mudah dikolimasi

Sangat bagus untuk observasi bulan, matahari, planet (terutama f/8 ke atas), objek langit dalam, dan astrofotografi
Besar/berat, terutama di atas 8 inci

Kolimasi harus sering diperiksa.
Teleskop Reflektor Newtonian Deep-Dish (Piringan Dalam)
Biasanya 4” (102 mm) dan lebih besar, di bawah f/6
Murah per lebar bukaan dibandingkan jenis teleskop lain

Bidang pandang lebar

Bukaan besar berarti penetrasi magnitudo maksimum

Mudah dikolimasi

Sangat baik untuk objek langit dalam yang terang maupun redup (objek tata surya juga oke, tetapi biasanya lebih rendah kualitasnya dibandingkan reflektor dangkal dengan ukuran yang sama meskipun tidak selalu demikian).
Bukaan yang lebih besar dapat berat/besar, terutama yang menggunakan tabung solid

Bahkan dengan rasio fokus yang cepat, bukaan yang lebih besar mungkin masih memerlukan tangga untuk mencapai lensa okuler.

Versi sangat murah mungkin menunjukkan kompromi dalam kualitas optik

Dudukan Dobsonian tidak melacak bintang (beberapa produk ada yang memiliki opsi ini)

Kolimasi sangat penting (harus diperiksa sebelum setiap penggunaan)

Ujung tabung yang terbuka memungkinkan kontaminasi kotoran dan debu

Bukaan besar sangat sensitif terhadap kondisi pengamatan
Reflektor Cassegrain
Biasanya 6” (152 mm) dan lebih besar, f/12 dan di atasnya
Portabilitas

Posisi lensa okuler yang nyaman

Cocok untuk mengamati bulan, matahari, planet, dan objek langit dalam yang lebih kecil (misalnya, bintang ganda, planetary nebulae).
.
Cermin sekunder besar

Harga sedang hingga tinggi dibandingkan dengan bukaan lensa

Bidang yang sempit

Ditawarkan oleh sedikit perusahaan
Schmidt-Cassegrain (Katadioptrik)
Biasanya bukaan lensa berukuran 5” (127 mm) hingga 16” (406 mm), f/10
Harga terjangkau dibandingkan dengan bukaan lensa

Portabilitas

Posisi lensa okuler yang nyaman

Berbagai macam aksesori

Mudah diadaptasi untuk astrofotografi

Baik untuk mengamati bulan, matahari, planet, objek langit dalam yang terang, dan astrofotografi
Cermin sekunder yang besar mengurangi kontras

Kualitas gambar tidak sebaik teleskop refraktor atau reflektor

Gambar bintang tampak menggembung pada foto eksposur panjang

Rasio f yang lambat berarti eksposur lebih lama daripada teleskop Newtonian dan refraktor yang lebih cepat

Pelat korektor rentan terhadap pengembunan

Berpotensi sulit menemukan objek, terutama di dekat zenit (hanya untuk dudukan/mount tipe garpu)

Pergeseran cermin selama pemfokusan dapat menyebabkan gambar melompat
Schmidt-Newtonian (Katadioptrik)
Ukuran lensa biasanya 6” (152 mm) hingga 10” (254 mm), f/4 hingga f/5
Biaya moderat dibandingkan dengan bukaan

Portabilitas

Rasio fokus cepat berarti waktu pencahayaan lebih singkat selama astrofotografi

Bidang pandang lebar
Cermin sekunder yang besar mengurangi kontras

Kualitas gambar tidak sebaik teleskop refraktor atau reflektor

Pelat korektor rentan terhadap pengembunan

Kolimasi sangat penting
Lensa Maksutov-Newtonian (Katadioptrik)
Biasanya ” (127 mm) hingga 10” (254 mm), biasanya f/6
Gambar tajam, mendekati kualitas teleskop refraktor

Ukuran praktis untuk pengaturan cepat

Sangat cocok untuk bulan, planet, matahari, dan objek langit dalam yang terang
Pelat korektor rentan terhadap pengembunan

Lebih mahal daripada teleskop Newtonian dengan ukuran yang sama
Maksutov-Cassegrain (Katadioptrik)
Biasanya 3,5” (90 mm) dan lebih besar, f/12 dan lebih tinggi
Gambar tajam, mendekati kualitas teleskop refraktor

Posisi lensa mata yang nyaman

Mudah diadaptasi untuk astrofotografi

Sangat baik untuk bulan, planet, matahari; bagus untuk objek langit dalam yang terang dan kecil
Beberapa sangat mahal dibandingkan dengan bukaan lensanya.

Beberapa memiliki teleskop pencari yang posisinya kurang nyaman.

Beberapa model menggunakan lensa okuler berulir, sehingga adaptor diperlukan untuk lensa okuler merek lain.

Sulit untuk dikolimasi, jika diperlukan.

Rasio f yang lambat berarti waktu pencahayaan lebih lama dan bidang pandang yang sempit.

Jangan Lupa!: Mounting atau Dudukan Teleskop juga Sama Pentingnya

Teleskop itu sendiri hanyalah setengah dari cerita. Dapatkah kita bayangkan mencoba memegang teleskop dengan tangan sambil berjuang untuk melihat melalui teleskop tersebut? Jika berat instrumen itu sendiri tidak membuat kita kesulitan terlebih dahulu, pasti setiap guncangan kecil akan diperbesar menjadi gempa bumi visual! Untuk menggunakan teleskop astronomi sejati, kita tidak punya pilihan selain menopangnya pada semacam dudukan eksternal. Untuk teleskop pengamatan kecil, ini mungkin berupa tripod meja sederhana, sementara teleskop yang paling canggih dilengkapi dengan sistem penyangga yang sama canggihnya.

Memilih dudukan yang tepat sama pentingnya dengan memilih teleskop yang tepat. Dudukan yang baik harus cukup kuat untuk menopang berat teleskop sekaligus meminimalkan getaran yang disebabkan oleh pengamat (seperti saat memfokuskan) dan lingkungan sekitar (dari hembusan angin atau bahkan lalu lintas jalan di dekatnya). Memang, tanpa dudukan yang kokoh untuk menopang teleskop, bahkan instrumen terbaik sekalipun hanya akan menghasilkan gambar yang buram dan goyah. Dudukan juga harus memberikan gerakan yang halus saat memindahkan teleskop dari satu objek ke objek berikutnya dan memungkinkan akses mudah ke bagian langit mana pun.

Semua sistem dudukan teleskop termasuk dalam salah satu dari dua kategori besar berdasarkan konstruksinya: ketinggian-azimut atau ekuatorial.

Tiga dudukan teleskop paling populer, dari kiri ke kanan: teleskop reflektor Newtonian pada dudukan alt-azimut Dobsonian; teleskop Schmidt-Cassegrain pada dudukan ekuatorial Jerman dengan kontrol GoTo terkomputerisasi; dan teleskop Schmidt-Cassegrain pada dudukan alt-azimut tipe garpu terkomputerisasi.

Dudukan Altitude-Azimuth (Alt-Az)

Dudukan altitude-azimut (disingkat alt-azimut atau alt-az) adalah jenis penyangga teleskop paling sederhana. Sesuai namanya, sistem alt-az bergerak baik dalam azimut (horizontal) maupun dalam altitude (vertikal). Semua kepala tripod kamera, misalnya, adalah sistem alt-az.

Jenis dudukan ini paling sering disertakan dengan teleskop refraktor dan reflektor Newtonian yang lebih kecil dan lebih murah. Dudukan ini memungkinkan instrumen untuk diarahkan dengan mudah ke bagian langit mana pun. Setelah diarahkan ke arah yang tepat, kedua sumbu dudukan (yaitu, sumbu ketinggian dan sumbu azimut) dapat dikunci pada tempatnya. Beberapa dudukan alt-azimut dilengkapi dengan kontrol gerak lambat, satu untuk setiap sumbu. Dengan memutar salah satu atau kedua kenop kontrol, pengamat dapat menyempurnakan bidikan teleskop serta mengikuti rotasi bumi.

Dalam beberapa dekade terakhir, variasi dudukan alt-azimuth yang disebut Dobsonian menjadi sangat populer di kalangan penghobi. Dudukan Dobsonian dinamai menurut John Dobson, seorang pembuat teleskop amatir dan pemopuler astronomi dari daerah San Francisco.

Pada tahun 1970-an, Dobson mulai membangun reflektor Newtonian berapertur besar untuk melihat “alam semesta yang sebenarnya.” Setelah perakitan optik selesai, ia menghadapi tantangan sulit untuk merancang dudukan yang cukup kuat untuk menopang ukuran instrumen tersebut namun cukup sederhana untuk dibangun dari bahan-bahan umum menggunakan perkakas tangan. Hasilnya adalah turunan dari dudukan alt-az.

Dengan menggunakan kayu lapis dan beberapa bahan serta perkakas dasar, Dobson merancang dudukan teleskop yang mampu menahan teleskop Newtonian-nya yang besar dengan stabil. Kayu lapis adalah bahan yang ideal untuk dudukan teleskop, karena memiliki kekuatan yang luar biasa serta kemampuan peredaman getaran yang hebat. Formica dan Teflon bersama-sama menciptakan permukaan bantalan yang halus, memungkinkan teleskop bergerak bebas di langit. Tidak heran dudukan Dobsonian menjadi sangat populer.

Meskipun dudukan alt-azimuth tradisional maupun dudukan Dobsonian sangat mudah digunakan, keduanya juga memiliki beberapa kekurangan.

Mungkin yang paling jelas disebabkan bukan oleh dudukannya, tetapi oleh Bumi itu sendiri! Jika dudukan alt-azimuth digunakan untuk menopang teleskop pengamatan terestrial, maka fakta bahwa dudukan tersebut bergerak secara horizontal dan vertikal akan menguntungkan.

Namun, langit selalu bergerak karena rotasi Bumi. Oleh karena itu, untuk mempelajari atau memotret benda-benda langit dalam jangka waktu lama tanpa gangguan, teleskop kita harus bergerak bersamaan dengan benda-benda tersebut. Jika kita berada tepat di Kutub Utara atau Kutub Selatan, bintang-bintang akan tampak membentuk busur sejajar dengan cakrawala saat Bumi berputar.

Melacak bintang-bintang hanya membutuhkan pengarahan teleskop ke target yang diinginkan, mengunci sumbu ketinggian pada tempatnya, dan perlahan-lahan menggerakkan sumbu azimuth bersamaan dengan langit.

Beda cerita jika kita mengamati di tempat lain selain kutub. Kemiringan sumbu bumi menyebabkan bintang-bintang mengikuti jalur melengkung yang panjang di langit, menyebabkan sebagian besar bintang terbit secara diagonal di timur dan terbenam secara diagonal di barat. Dengan dudukan alt-azimuth, perlu untuk menggeser teleskop secara horizontal dan vertikal secara bertahap agar tetap mengikuti pergerakan langit. Ini jelas kurang nyaman dibandingkan dengan gerakan tunggal yang dinikmati oleh dudukan ekuatorial, cara kedua untuk menopang teleskop.

Dudukan/Mounting Ekuatorial

“Jika kita tidak bisa meninggikan jembatan, turunkan saja sungainya,” begitulah kata pepatah. Inilah filosofi dari dudukan ekuatorial. Karena tidak ada yang bisa dilakukan terhadap pergerakan bintang yang tampak di langit, metode pemasangan teleskop harus mengakomodasinya. Dudukan ekuatorial dapat dianggap sebagai dudukan altitude-azimut yang dimiringkan pada sudut yang sesuai dengan garis lintang lokasi pengamatan.

Seperti saudaranya yang lebih sederhana, dudukan ekuatorial terdiri dari dua sumbu yang tegak lurus, tetapi alih-alih menyebutnya sebagai ketinggian dan azimut, kita menggunakan istilah sumbu asensi kanan (atau kutub) dan sumbu deklinasi. Agar dudukan ekuatorial dapat melacak bintang dengan benar, sumbu kutubnya harus sejajar dengan kutub langit.

Ada banyak keuntungan menggunakan dudukan ekuatorial. Keuntungan terbesarnya adalah kemampuan untuk memasang penggerak motor pada sumbu asensi kanan sehingga teleskop mengikuti langit secara otomatis dan (hampir) tanpa usaha. Keuntungan lain dari dudukan ekuatorial adalah, setelah disejajarkan dengan kutub, dapat mempermudah pencarian objek di langit dengan menyederhanakan perpindahan dari satu objek ke objek berikutnya menggunakan peta bintang, serta memungkinkan penggunaan lingkaran pengaturan.

Namun, sisi negatif dari dudukan ekuatorial adalah ukurannya yang hampir selalu lebih besar, lebih berat, lebih mahal, dan lebih rumit daripada dudukan alt-azimuth. Inilah mengapa desain alt-az Dobsonian yang sederhana sangat populer untuk menopang teleskop Newtonian berukuran besar. Dudukan ekuatorial yang cukup besar untuk menopang, misalnya, reflektor f/4 berukuran 12 hingga 15 inci mungkin akan memiliki berat mendekati 100 kg, sedangkan dudukan Dobsonian dari kayu lapis akan memiliki berat kurang dari 25 kg.

Sama seperti ada banyaknya jenis teleskop, demikian pula ada banyak jenis dudukan ekuatorial. Beberapa cukup mewah, sementara yang lain mudah digunakan dan dipahami. Kita akan membahas dua gaya yang paling umum.

Dudukan Ekuitorial Jerman

Selama bertahun-tahun, tipe ini adalah jenis dudukan yang paling populer diantara astronom amatir. Bentuk dudukan ini seperti Seperti huruf T miring dengan sumbu polar mewakili sisi panjang dan sumbu deklinasi menandai palang huruf tersebut. Teleskop dipasang di salah satu ujung palang, sementara beban penyeimbang dipasang di ujung yang berlawanan.

Kesederhanaan dan kekokohan dudukan ekuitorial Jerman ini membuatnya menjadi favorit untuk menopang berbagai jenis teleskop. Dudukan ini memungkinkan akses bebas ke seluruh penjuru langit (walaupun sama seperti alt-azimuth, cukup sulit melakukan observasi di area dekat kutub), mudah dipasangkan dengan penggerak motor listrik, dan dapat dipasangkan dengan tripod ataupun basis tipe pedestal. Untuk membantu mempermudah penyelarasan kutub, beberapa dudukan ekuatorial Jerman memiliki teleskop penyelarasan kecil yang terpasang langsung pada sumbu asensi kanannya sehingga sangat populer di kalangan astrofotografer.

Terlepas dari jenisnya, dudukan teleskop harus mampu menopang teleskop dengan stabil agar bermanfaat. Untuk menguji kekakuan dudukan, saya sarankan melakukan uji ketuk. Pukul tabung teleskop di bagian ujung atas dengan telapak tangan Anda sambil melihat melalui teleskop ke arah target, baik terestrial maupun celestial. Jangan benar-benar memukul teleskop dengan keras, tetapi pukul dengan kekuatan yang cukup untuk membuatnya bergetar secara nyata. Kemudian, hitung berapa lama waktu yang dibutuhkan agar gambar stabil. Kurang dari 3 detik sangat baik, sedangkan 3 hingga 5 detik baik. Saya menganggap 5 hingga 10 detik biasa saja, sedangkan lebih dari 10 detik mendakan dudukan yang buruk.

Seperti segala sesuatu dalam kehidupan, dudukan ekuitorial Jerman juga memiliki kelemahan. Salah satu kekurangan desain ini adalah tidak dapat melakukan pemindaian terus menerus dari timur ke barat. Sebaliknya, ketika teleskop mendekati meridian, pengguna harus memindahkannya dari objek yang terlihat, memutar instrumen ke sisi lain dudukan, dan mengarahkannya kembali ke target. Meskipun hal ini hanya merepotkan bagi pengamat visual, namun hal ini sangat merugikan bagi astrofotografer yang sedang melakukan pemotretan dengan eksposur panjang karena saat teleskop diputar, orientasi bidang pandang juga ikut berputar.

Kelemahan kedua pada dudukan ekuitorial Jerman adalah beban yang berat: dudukan ini bisa sangat berat, terutama untuk teleskop yang lebih besar dari 8 inci. Sebagian besar beratnya berasal dari poros (biasanya terbuat dari baja padat) serta pemberat yang digunakan untuk mengimbangi teleskop. Pada saat yang sama, tidak selalu bahwa berat berarti kokoh. Misalnya, beberapa dudukan ekuatorial Jerman yang berat dirancang dengan sangat buruk sehingga bahkan tidak dapat menopang teleskop yang ukurannya setengah dari teleskop yang dijual bersamanya.

Jika melihat teleskop yang dilengkapi dengan dudukan Jerman, perhatikan baik-baik diameter poros asensi kanan dan deklinasi. Pada dudukan yang dirancang dengan baik, setiap poros setidaknya 1/8 dari apertur teleskop. Untuk kekokohan tambahan, dudukan Jerman yang baik menggunakan bola laher pada porosnya, sedangkan versi yang lebih rendah menggunakan ulir yang murah.

Hal terakhir yang harus diperhatikan adalah bahwa saat melakukan observasi di tempat yang jauh dan gelap, memindahkan dudukan ekuitorial Jerman bisa sangat melelahkan. Pertama, teleskop harus dilepas dari dudukan. Kemudian, tergantung dari seberapa berat perlengkapan, dudukan atau kepala dudukan ekuitorial kadang-kadang perlu dipisahkan terlebih dahulu dari tripod atau pedestal. Lalu, terakhir, semua bagian (termasuk lensa okuler, peta, dan aksesori lainnya) harus disimpan secara hati-hati. Urutan yang berkebalikan juga dilakukan saat tiba di tempat observasi dan semua urutan tersebut berlangsung kembali saat kita akan menuju rumah.

Dudukan Ekuitorial Garpu

Dudukan ekuitorial tipe garpu populer digunakan sebagai dudukan pada teleskop yang kompak seperti teleskop Scmidt-Cassegrain dan Maksutov-Cassegrain. Dudukan garpu menopang teleskopnya pada bantalan yang terletak di antara dua cabang garpu, atau cabang, yang memungkinkan pergerakan penuh dalam deklinasi. Garpu biasanya memanjang dari alas melingkar yang dapat diputar, yang pada gilirannya bertindak sebagai sumbu asensi kanan ketika dimiringkan pada sudut yang tepat.

Mungkin keunggulan terbesar dari dudukan garpu adalah bobotnya yang ringan. Tidak seperti sepupunya dari Bavaria, dudukan ekuatorial garpu biasanya tidak memerlukan penyeimbang untuk mencapai keseimbangan. Sebaliknya, teleskop diseimbangkan dengan menempatkan pusat gravitasinya di antara cabang-cabang garpu, seperti jungkat-jungkit. Ini adalah fitur yang sangat bagus untuk teleskop gaya Cassegrain, karena memungkinkan akses yang mudah ke lensa mata terlepas dari ke mana teleskop diarahkan—yaitu, kecuali ketika diarahkan dekat kutub langit. Dalam posisi ini, lensa mata bisa sangat sulit dijangkau, biasanya mengharuskan pengamat untuk membungkuk di atas dudukan tanpa menabraknya.

Dudukan garpu yang disertakan dengan sebagian besar teleskop SCT dan Maksutov-Cassegrain dirancang untuk kenyamanan dan portabilitas maksimal. Dudukan ini cukup ringkas untuk tetap terpasang pada teleskopnya, dan bersama-sama muat di dalam wadahnya untuk memudahkan pengangkutan. Setelah sampai di lokasi pengamatan, garpu dengan cepat terpasang pada tripodnya menggunakan sekrup putar. Tidak ada yang lebih baik dari itu, terutama jika dibandingkan dengan alternatif dudukan Jerman.

Dudukan garpu dengan cepat menjadi tidak praktis untuk teleskop tabung panjang seperti teleskop Newtonian dan refraktor. Agar teleskop yang dipasang pada dudukan garpu dapat mengarah ke titik mana pun di langit, kedua cabang dudukan harus cukup panjang agar ujung instrumen dapat berayun tanpa bertabrakan dengan bagian lain dari dudukan. Untuk memenuhi persyaratan ini, cabang-cabang tersebut harus bertambah panjang seiring dengan bertambahnya panjang teleskop. Pada saat yang sama, cabang garpu juga harus bertambah tebal untuk menjaga kekakuan. Jika tidak, jika lengan garpu terlalu kecil, mereka akan mentransmisikan setiap getaran kecil ke teleskop. (Dalam kasus tersebut, mungkin seharusnya disebut dudukan garpu tala!)

Salah satu cara untuk mengatasi kebutuhan akan cabang garpu yang lebih panjang adalah dengan menggeser pusat gravitasi teleskop dengan menambahkan pemberat pada tabung. Namun, dengan cara apa pun, berat total akan meningkat. Bahkan, pada akhirnya teleskop yang dipasang pada dudukan garpu mungkin akan lebih berat daripada jika dipasang pada dudukan ekuatorial Jerman yang sama kuatnya.

Dudukan GoTo

Secara teknis, dudukan GoTo bukanlah desain dudukan terpisah, melainkan perpaduan antara dudukan teleskop dengan komputer terintegrasi yang dapat menggerakkan teleskop ke objek yang dipilih. Banyak dudukan GoTo sebenarnya adalah dudukan garpu ketinggian-azimut, sehingga penyelarasan kutub tidak diperlukan. (Untuk menggunakan dudukan GoTo ketinggian-azimut untuk astrofotografi terpandu eksposur panjang, baji ekuatorial harus digunakan untuk memiringkan teleskop agar sesuai dengan garis lintang lokasi pengamatan dan dudukan harus diselaraskan kutubnya seperti pada dudukan ekuatorial standar.) Sebagai gantinya, komputer onboard secara otomatis mengkompensasi lokasi pengamat dan kemudian mengontrol motor penggerak dudukan untuk melacak langit secara akurat.

Bagaimana keajaiban ini bisa terjadi? Secara umum, pengguna cukup memasukkan waktu dan tanggal saat ini ke dalam kotak kontrol genggam yang kecil dan memilih lokasinya dari basis data kota komputer (mereka yang memiliki teknologi GPS bawaan melakukannya secara otomatis), lalu menekan tombol penyelarasan. Sistem pembidikan terkomputerisasi teleskop kemudian bergerak menuju dua bintang penyelarasan yang telah dihafalnya. Teleskop seharusnya berhenti di lokasi umum bintang penyelarasan pertama, tetapi pengguna harus menyempurnakan instrumen dengan menggunakan pengontrol genggam hingga bintang penyelarasan pertama berada di tengah bidang pandang. Kemudian tombol penyelarasan ditekan untuk menyimpan posisi tersebut. Setelah mengulangi proses dengan bintang penyelarasan kedua, LCD menampilkan apakah penyelarasan berhasil atau tidak. Jika berhasil, teleskop diinisialisasi dan siap digunakan untuk malam itu; jika tidak, proses harus diulang.

Tidak dapat disangkal bahwa teleskop GoTo memiliki daya tarik yang besar. Namun, banyak yang membeli salah satu instrumen GoTo yang lebih murah yang tampaknya semakin banyak beredar akhir-akhir ini, merasa kecewa. Teleskop GoTo murah seringkali sulit diatur, terutama dalam hal memulai sistem operasinya.

Perlu diingat bahwa dengan investasi yang sama, kita dapat memilih teleskop non-GoTo yang lebih besar dengan harga yang sama dengan instrumen kecil yang terkomputerisasi. Pada teleskop yang terkomputerisasi, kita membagi anggaran, sebagian untuk optik dan sebagian untuk elektronik. Ini adalah kompromi terbaik. Pertimbangkan semua pilihan sebelum membuat keputusan.

Teleskop Dobsonian: Salah Satu yang Terbaik untuk Pemula

Teleskop Dobsonian adalah salah satu jenis teleskop yang paling populer di kalangan astronom amatir, terutama bagi mereka yang ingin melihat objek luar angkasa yang redup (seperti galaksi dan nebula) tanpa harus mengeluarkan biaya selangit.

2184897245

Secara teknis, teleskop ini merupakan variasi dari desain Newtonian yang dipasang di atas dudukan (mount) yang sangat sederhana. Adapun kelebihan yang ditawarkan teleskop ini adalah sebagai berikut:

  • Apertur besar dengan harga relatif terjangkau. Karena dudukannya murah dan mudah dibuat, biaya produksi dialihkan sepenuhnya ke ukuran cermin. Anda bisa mendapatkan teleskop dengan diameter 200 mm (8 inci) dengan harga yang jauh lebih murah daripada jenis Cassegrain atau refraktor dengan ukuran yang sama.
  • Sangat stabil. Berbeda dengan tripod yang kadang goyang terkena angin, rocker box Dobsonian duduk langsung di tanah, sehingga sangat stabil dan minim getaran.
  • Kemudahan penggunaan. Tidak perlu penyelarasan kutub (polar alignment) yang rumit. Anda cukup meletakkannya di tanah, lalu mengarahkannya langsung ke objek yang ingin dilihat (konsep point-and-shoot).
  • Kekuatan visual. Sangat mumpuni untuk melihat detail kawah bulan, cincin Saturnus, hingga objek jauh (deep sky objects) seperti Nebula Orion atau Andromeda.

Meskipun hebat, teleskop ini memiliki beberapa karakteristik yang perlu diketahui:

  •  Ukuran besar dan berat. Teleskop Dobsonian dengan aperture besar (di atas 10 inci) bisa sangat berat dan memakan tempat di bagasi mobil.
  • Pelacakan manual. Kebanyakan Dobsonian bersifat manual. Karena bumi berputar, objek di langit akan perlahan bergeser dari pandangan, sehingga kita harus mendorong tabung secara perlahan untuk terus mengikuti objek tersebut.
  • Bukan untuk astrofotografi eksposur lama. Karena gerakannya altazimuth (bukan ekuatorial), teleskop ini sulit digunakan untuk memotret galaksi yang butuh waktu bukaan lensa lama, meski sangat bagus untuk foto bulan atau planet yang cepat.

Jadi, jika tujuan utama kita adalah pengamatan visual dan ingin melihat objek langit sedetail mungkin dengan anggaran terbatas, Dobsonian adalah pilihan terbaik. Teleskop ini sering dijuluki sebagai “meriam cahaya” karena kemampuannya mengumpulkan cahaya yang luar biasa dalam paket yang sederhana.

Tapi, setelah saya survey ternyata, sampai saat ini belum sekali pun mendapat ada teleskop Dobsonian di Indonesia yang dijual dengan harga di bawah Rp.10 juta-an! Kalau di review luar negeri, ada pilihan teleskop Dobsonian di bawah USD. 400. Tetapi, untuk di Indonesia, sepertinya belum ada tawaran yang semenarik itu.

Permasalahan Astronom Pemula di Indonesia

Tetapi, setelah melakukan pencarian, ternyata untuk teleskop Dobsonian 8 atau 10 inchi di Indonesia dengan harga di bawah Rp.10 juta ternyata sulit sekali. Begitu juga tempat membeli atau melihat langsung di toko peralatan astronomi juga sangat-sangat terbatas.

Sampai saat ini saya sendiri masih mencari alat yang pas. Pertimbangannya adalah mencari teleskop Dobsonian 6 atau 8 inchi dengan harga semurah mungkin atau pilihan lain adalah memulai dengan teleskop pintar atau smart telescope.

Walaupun cukup memusingka, Harrington dan Philip S. dalam buku Star Ware: The Amateur Astronomer’s Guide to Choosing, Buying, and Using Telescopes and Accessorie, kedua penulis membuat sistem skoring untuk membantu kita memilih teleskop yang cocok. Adapun sistem skoringnya dapat dilihat di tautan ini.