Astronomi merupakan hal yang saya nikmati dan merupakan hobi sejak masa kecil. Walaupun nasib dan takdir tidak membuat saya menapaki jalan maupun profesi di bidang astronomi, namun tidaklah salah kalau memulai kembali berkecimpung kembali walau dari nol.
Perbedaannya mungkin kalau dahulu memiliki waktu tapi tidak punya sumber daya, tetapi sekarang ada sumber daya walaupun terbatas namun hanya memiliki sedikit waktu. Supaya lebih serius dan sistematis, saya akan mencoba menapakai dengan disertai catatan yang saya simpan dan dibagi ke orang lain dalam bentuk website ini.
Memilih Alat Bantu Astronomi untuk Pemula
Hal pertama yang saat ini terpikir adalah memilih alat untuk mengamati peristiwa astronomi dari teras atau halaman rumah. Beberapa hal yang bisa membantu adalah:
- Alat pengamatan visual
- Mata telanjang. Gear paling awal dan terbaik untuk memulai. Melatih pengamatan dengan mengenali rasi bintang (konstelasi), fase bulan, dan pergerakan planet (seperti Jupiter dan Venus yang mudah untuk diamati tanpa alat bantuan).
- Binokular (teropong binokular). Sangat direkomendasikan untuk pemula sebelum membeli teleskop. Ukuran 7 x 50 (pembesaran 7X dan lensa objektif 50 mm) atau 10 x 50 adalah standar emas. Binokular memberikan bidang pandang luas, sehingga lebih mudah menemukan objek seperti kawah bulan atau gugus bintang Pleiades.
- Teleskop pemula. Jika sudah siap, pilih teleskop tipe refraktor (lensa) atau reflektor/Dobsonian (cermin). Dobsonian sering dianggap yang terbaik dalam hal harga dibanding performa untuk melihat objek redup (deep sky objects).
- Alat bantu navigasi dan edukasi
- Aplikasi Stellarium atau SkyView: Aplikasi ini menggunakan GPS ponsel untuk menunjukkan benda langit apa yang sedang Anda lihat secara real-time.
- Planisfer (peta bintang putar): Alat fisik yang sangat membantu untuk mempelajari posisi bintang berdasarkan tanggal dan jam tanpa tergantung baterai ponsel.
- Buku panduan/referensi langit malam: Membantu Anda memahami apa yang sebenarnya sedang kita lihat, mulai dari sejarah mitologinya hingga fakta ilmiahnya.
- Aksesori pendukung
- Senter cahaya merah: Cahaya putih (seperti lampu HP) akan merusak “adaptasi gelap” mata kita. Senter merah membantu melihat peta bintang tanpa membuat mata silau.
- Kursi lipat dan pakaian hangat: Pengamatan astronomi membutuhkan kesabaran. Berdiri terlalu lama akan melelahkan, dan suhu malam hari terutama di dataran tinggi biasanya cukup dingin.
- Tripod: Jika menggunakan binokular berat atau mulai mencoba memotret, tripod yang kokoh sangat krusial untuk menjaga gambar tetap stabil.

Untuk saat ini masih belum mendetil. Saya akan coba udpate sedikit-sedikit dan secara bertahap dan akan dibagi dalam di website ini.
Langkah Pertama: Menikmati Langit Malam dengan Mata Telanjang
Cara paling cepat dan murah dalam mengamati angkasa luar adalah dengan mengamatinya secara langsung alias dengan mata telanjang. Walaupun tidak semua tempat bisa maksimal khususnya di kota besar seperti Jakarta yang memiliki banyak “polusi cahaya”, hanya objek-objek tertentu yang bisa diamati dengan mata telanjang.
Beberapa objek langit di malam yang hari yang bisa diamati walaupun di kota besar diantaranya:
- Bintang dan kontelasi besar seperti Orion (terutama di kawasan tropis), rasi Scorpius, dan Crux.
- Beberapa planet seperti Venus, Jupiter, Mars, dan kadang Saturnus
Tapi tentu secara umum mengamati langit malam di kota besar tidak terlalu berkesan karena terhalang oleh polusi cahaya serta polusi dan debu. Cuaca juga bisa menjadi penghalang terutama jika sedang banyak awan.
Untuk membantu mengamati langit awal dapat juga dibantu dengan menggunakan alat bantu navigasi. Beberapa aplikasi navigasi yang cukup mudah dipakai adalah SkyView. Cukup mudah dipakai dan sangat membantu dalam mengenali objek-objek langit dengan mata telanjang.


Tinggalkan Balasan