Sebelumnya saya sudah memiliki teropong binokuler, sebagai gadget pertama sebagai astronom amatir dan pemula. Terus terang, saya semakin penasaran untuk melanjutkan perjalanan saya di astronomi ke tahap berikutnya yaitu memiliki teleskop atau lebih tepatnya sistem teleskop. Kenapa? karena untuk mendukung observasi atau pengamatan yang nyaman, ternyata tidak hanya cukup memiliki teleskop yang baik saja. Perlengkapannya juga harus memadai.
Kesadaran akan pentingnya sistem yang memadai ini sangat terasa bahkan ketika saat ini dimana hanya berbekal binokular saja.
Ada beberapa keluhan dari saya sewaktu menggunakan binokuler yang menyebabkan kurang betah berlama-lama memakai binokuler. Keluhan tersebut adalah sebagai berikut:
- Leher cepat pegal, walaun sudah menggunakan tripod
- Kesulitan dalam hal mendapatkan bayangan objek luar angkasa yang stabil.
- Sulit untuk mengambil gambar, hanya baik untuk astronomi pengamatan langsung
- Buat anak-anak cukup berat sehingga agak sulit menggunakannya
Dengan semakin banyak membaca, saya rasa sudah cukup mendapat informasi mengenai kriteria sistem teleskop pertama saya. Kriteria dan penjelasannya adalah sebagai berikut:
Memiliki Dudukan atau Mounting Teleskop yang Memadai
Ini saya cermati berkali-kali disinggung dalam berbagai review. Jangan lupakan mounting atau dudukan teleskop. Pilihlah dudukan yang kokoh dan dapat meredam goyangan seminimal mungkin.
Namun, ternyata mencari dudukan teleskop yang baik cukup sulit. Rata-rata teleskop untuk pemula datang dengan dudukan atau mounting bawaan yang dipaket dengan teleskopnya. Sedangkan produk yang menawarkan dudukan teleskop saja untuk pemula sangat jarang. Biasanya yang ditawarkan langsung ke dudukan otomatis termotorisasi yang harganya sangat mahal, misalkan Celestron Advanced VX, seri Sky-Watcher, iOptron, dsb.

Untuk dudukan manual tipe ekuitorial saya menemukan satu yaitu Omni CG-4. Tetapi tidak ada vendor yang menjual di Indonesia. Vendor terdekatnya di Singapura dan saya lihat harganya juga sudah sangat lumayan mahal untuk ukuran pemula seperti saya. Selain itu pemesanan dari luar cukup sulit karena ukurannya besar dan beratnya dudukan teleskop tersebut.

Adapun dudukan tipe alt-azimuth masih ada yang saya kira cukup menarik seperti SVBONY SV225 dimana produsennya dari Asia dan masih memungkinkan dipesan dan dikirim ke Indonesia. Adapun harganya adalah sekitar USD 150 untuk dudukannya saja dan USD 267 jika dengan tripod (tidak termasuk ongkos kirim).
Saya sebenarnya menginginkan tipe ekuitorial manual yang bisa di-upgrade dengan memasang motor listrik di kemudian hari, tetapi, dikarenakan logistik pengiriman yang sulit, harus rasional sehingga untuk saat ini SVBONY SV225 menjadi incaran saya saat ini.

Walaupun demikian, sepertinya saya masih harus mengurungkan niat untuk membeli dudukan tersebut karena saat ini rupiah sedang mengalami depresiasi parah!!!!
Bukaan yang Lebar dan Rasio Fokus Cepat (<F/5)
Dalam pembahasan mengenai jenis teleskop disebutkan bahwa bukaan atau apertur sangatlah penting. Oleh sebab itu, saya juga ingin memiliki telesko dengan apertur yang besar dan harga yang terjangkau. Otomatis, teleskop refraktor tercoret. Untuk bukaan besar, refraktor akromatik atau apokromatik sangatlah mahal.
Contoh Askar 71F dengan harga USD.660 OTA (hanya tabung optik, tanpa perlengkapan lain).

Adapun teleskop refraktor yang dijual di market place di Indonesia seperti dari Celestron harganya cukup menarik walaupun tentu kelemahannya karena sepaket, dudukannya tidak baik, terlalu letoy, bukaannya kecil, dan kualitas lensa okuler paketannya juga tidak terlalu baik.
Jadi, pilihan saya sebenarnya tertarik untuk membeli jenis teleskop Newtonian. Awalnya saya tertarik dengan Celestron seri Astromaster. Namun setelah melihat beberpa review sepertinya tidak terlalu bagus. Apalagi melihat dudukannya, tampak sangat lemah dan letoy. Bahkan beberapa review cukup benci terhadap Celestron AstroMaster 114EQ Teleskop. Padahal awalnya sangat tertarik membeli, tapi akhirnya tidak jadi.

Setelah cukup lama membaca dan menyimak review, saya tertarik dengan tipe Dobsonian terutama dengan ukuran 8 inchi. Selain apertur besar, teleskop ini juga dianggap cukup murah dan berkualitas. Bahkan di Indonesia ada vendor yang menjual teleskop dari Taiwan yaitu GSO 10″ F/5. GSO atau Guang Sheng Optikal ternyata salah satu merk yang dikatakan “hidden gem”. Kualitas optik baik dengan harga terjangkau. Namun, GSO ini ternyata sangat sulit mencari vendornya dan bahkan website aslinya saja tidak menyediakan sarana penjualan langsung.

Tetapi, saya tidak jadi untuk membeli teleskop Dobsonian. Dikarenakan berat dan besar, akhirnya teleskop ini di Indonesia menajadi mahal. Padahal di luar negeri dikatakan harganya bisa , Tapi di sini malah jatuhnya mahal sekali. Selain itu, teleskop Dobsonian sulit diupgrade sehingga mungkin untuk kondisi saya saat ini tidak menjadi teleskop yang pertama, mungkin dipertimbangkan untuk mengoleksi jenis Dobsonian jika ada rezeki dan kesempatan di masa depan.
Pilihan lain adalah seri Newtonian dengan bukaan 6 inchi ke atas dan rasio fokus F/4 atau F/5. Ada beberapa kandidat diantaranya Sky-Watcher Explorer 130PDS F/5 atau yang setara, dari GSO: GS600D-8″ F/4 Newtonian. Namun, karena ukurannya lumayan besar, sekali lagi, jatuhnya harganya di Indonesia menjadi mahal, sulit mencari vendor untuk bisa beli, dan membutuhkan tripod dan mounting yang mumpuni sehingga malah menjadi tidak ekonomis lagi.


Lalu bagaimana dengan teleskop katadioptrik? Ini termasuk menarik. Terus terang sangat tertarik dengan teleskop tipe Scmidt-Cassegrain (SCT) khususnya Celestron C8 (SCT 8 inchi). Di Indonesia juga ada yang menjual dan dipaket dengan mounting atau dudukan manual dan terkomputerisasi. Harganya juga cukup menarik, walaupun di atas Rp.20 juta. Yang saya ingin justru adalah dengan teleskop Celestron C8 OTA dan membeli mounting dan peralatan lain secara terpisah namun sampai sekarang saya belum menemukan paket yang pas untuk saya.


Semakin bingung dan pusing apalagi rupiah semakin melemah terhadap USD. Walaupun demikian, ada secercah harapan. Ada satu jenis karadioptrik lain yaitu Maksutov-Cassegrain dan saya akhirnya sangat tertarik dengan teleskop Maksutov-Cassegrain dari Svbony yaitu SVBONY MK127. Harganya memang mahal tapi memberikan beberapa keuntungan, desain ringkas, dan dapat dibeli secara paketan. Ada yang OTA, di-bundle sebagai paket teleskop observasi, bahkan ada bundle astrofotografi.

Pada akhirnya memang harus berkompromi, SVBONY MK127 memiliki apertur 127 mm atau 5 inchi dengan rasio fokal F/11,8. Tidak seperti harapan awal. Tetapi, dibandingkan dengan faktor lain, menjadi jalan tengah, apalagi teleskop Maksutov-Cassegrain dikenal sebagai salah satu desain teleskop yang terbaik.
Tapi untungnya ternyata dalam paketnya ada 0.65x Focal Reducer yang bisa mengurangi rasio fokal dari F11,8 menjadi F7,8 (mendekati F4).
Peralatan/Perlengkapan Pendukung Lainnya
Selain itu, ada beberapa perlengkapan yang saya ingin tambahkan. Beberapa diantaranya:
- Eyepiece atau lensa okuler, saya memilih selain besaran yang tinggi tapi juga sudut atau luas pandang yang luas. Untuk ini saya memilih seri SVBONY 68 Degree Wide Angle Eyepieces
- Finder scope untuk membantu mencari objek angkasa yang akan. Pilihan saya untuk finder scope adalah SV182 6×30 Right-Angle Finder Scope
- Kaca diagonal 90o agar mempermudah observasi, untuk pilihan ini SV188P 90 Degree Dielectric Mirror Diagonal
- Kamera. Nah untuk kamera, ternyata Svbony juga memberi pilihan (SVBONY SC715C OSC). Kamera ini saya tujukan untuk mencicipi astrofotografi serta agar bisa berbagi apa yang saya lihat lewat teleskop kepada orang lain.

Aman untuk Pengiriman ke Indonesia
Tentu ini juga sangat penting. Sudah beli cukup mahal, pas datang malah rusak. Ini sih yang menjadi deg-degan. Akan sangat membantu jika ada distributor atau toko resmi. Namun begitulah nasib di negara kita, hobi ini memang tidaklah mudah dan butuh pengorbanan waktu dan biaya yang tidak sedikit.
Nah, begitulah kira-kira pantauan dan harapan rig astronomi pemula untuk saya sampai saat ini. Berapa harganya, mari kita hitung dengan data terakhir Mei 2026.
| Item | Harga* |
|---|---|
| MK127 + SVBONY SV225 + Tripod + Zoom eyepiece + finder scope + cermin diagonal | USD 830,99 |
| Lensa Barlow 2X SV216 | USD 50,99 |
| Kamera: SVBONY SC715C OSC | USD 189,99 |
| Total | USD 1071,97 |
Kalau dirupiahkan berarti Rp.18.972.368,24. Jika dengan bea cukai dan ongkos kirim bisa saja sampai Rp.25-Rp.30 jutaan. Wow, menurut saya mahal sekali. Semoga rupiah bisa menguat sehingga dana yang diperlukan tidak semakin banyak. Bagaimana? Ada masukan? Silahkan tulis di kolom komentar.


Tinggalkan Balasan