Ternyata cukup sulit juga dalam memilih gadget pertama apa yang dipilih sebagai awalan dari hobi astronomi amatir ini. Setelah menelusuri berbagai topik mulai dari jenis teleskop, kelebihan, keunggulan, harga, dan lain sebagainya akhirnya saya memutuskan untuk memilih binokuler sebagai pilihan pertama saya.
Kenapa binokuler? Jawabannya adalah karena ingin belajar langkah demi langkah dan tentu saja menyesuaikan dengan budget atau keuangan.
Di Indonesia dimana saat ini rupiah sedang melemah, biaya transport tinggi, dan semua peralatan astronomi adalah barang impor, harga barang perlengkapan astronomi menjadi sangat mahal.
Tentu adalah suatu tujuan dimana dalam kondisi pengetahuan masih minim, pengalaman tidak seberapa, maka diharapkan awalan tidak perlu mengeluarkan dana fantastis. Bahkan, harga binokuler sendiri bagi sebagian besar orang kita juga cukup mahal. Oleh sebab itu jargon value for money harus sangat diprioritaskan.
Saya sudah mencoba mengisi kalkulator “Tel-O-Scope” untuk membantu melihat rekomendasinya dan memang pilihannya tidak jauh dari binokuler.
Spesifikasi binokuler apa yang dipilih?
Sebetulnya tidak terlalu banyak spesifikasinya. Hanya mencari merek untuk astronomi. Untuk sekarang saya pilih Celestron SkyMaster 25 x 70. Jenisnya binokuler Porro dengan apertur atau bukaan 70 mm dan pembesaran 25 kali.

Adapun tolok ukur yang saya gunakan sampai memilih binokuler ini adalah sebagai berikut:
- Desain binokuler: tipe Porro untuk meminimalkan hilangnya cahaya saat mengalami pembiasan. Binokuler Celestron SkyMaster ini merupakan tipe Porro
- Apertur besar, dimana binokuler ini memiliki apertur atau lensa objektif 70 mm.
- Pembesaran 25 kali cukup besar walaupun luas pandang atau field of view (FOV) hanya 2,7°. Semakin besar tingkat pembesaran FOV jadi lebih kecil, begitu pula sebaliknya.
- Kaca prisma: terbuat dari bahan BaK-4
- Exit pupil pada teleskop ini adalah 70 : 25 = 2,8 mm, lebih rendah dari ukuran pupil saya waktu malam (6 – 7 mm). Sebenarnya lebih cocok mencari binokuler dengan ukuran exit pupil lebih besar. Namun, berhubung saya ada mata silindris (astigmatisme), ukuran exit pupil yang kecil bisa mengurangi pengaruh mata silindris saya.
- Pembesaran tetap, bukan tipe binokuler zoom.
- Lensa depan, prisma, dan okuler sudah memiliki coating.
Namun, kelemahan utama binokuler ini adalah ukurannya cukup besar dengan berat sekitar 1,3 kg. Lumayan melelahkan dan pegal kalau dipakai dalam waktu lama. Oleh sebab itu, lebih nyaman jika memakai tripod.
Dalam paket sudah disertakan tas, penutup lensa depan, penutup lensa okuer, adaptor tripod, dan kain pembersih. Adapun tripod tidak disertakan, jadi menggunakan tripod kamera atau HP yang sudah ada di rumah.



Untuk percobaan di siang hari berikut perbandingannya dengan melihat puncak tiang pemancar seluler berjarang 130 m. Perbandingannya bisa dilihat pada gambar di bawah:


Pembesaran dengan binokuler Celestron SkyMaster 25 x 70 m
Untuk di malam hari, pengamatan angkasa lewat binokuler sangat membantu. Bintang-bintang yang redup menjadi lebih terlihat. Akan tetapi, untuk mengambil gambar amat sangat sulit. Betul-betul memerlukan tripod yang sangat stabil dan saya kira jika ingin mengambil gambar, bisa langsung tanpa binokuler atau upgrade ke teleskop.

Foto di atas, adalah foto yang diambil dengan menempelkan lensa kamera ke binokuler. Sangat sulit mendapatkan fokus dan kualitas gambar tidak baik. Binokuler kurang cocok dipasangkan dengan kamera HP karena sulit fokus dan memerlukan dudukan atau mounting yang sangat stabil.
Akan tetapi, dengan menggunakan tripod dan kamera HP saja, kita masih dapat mendapatkan gambar/foto yang cukup baik. Namun, lebih baik jika menggunakan mounting yang bisa tracking pergerakan bintang.


Di sini kita mencoba memoto dengan menggunakan exposure panjang. Untuk exposure 30 detik masih cukup baik namun ketika exposure diperlama misal menjadi 60 detik, ligh trail mulai tampak dan kualitas gambar menjadi kurang baik.

Adapun untuk bulan, berikut adalah hasil pengambilan gambar bulan dengan kemera HP melalui binokuler Porro Celestron SkyMaster 25 x 70.

Saya juga sempat merekam bulan menggunakan HP dengan batuan binoluler ini. Adapun vidionya dapat dilihat di tautan Youtube di bawah ini:


Tinggalkan Balasan