Magnitudo dalam astronomi adalah skala numerik yang digunakan untuk mengukur kecerahan objek langit seperti bintang, planet, dan galaksi. Sistem ini bekerja secara logaritmik terbalik, artinya semakin kecil atau negatif nilai magnitudonya, maka semakin terang objek tersebut di pandangan kita.
Terdapat dua kategori utama magnitudo yang digunakan untuk membedakan kecerahan objek:
- Magnitudo Semu (m): Tingkat kecerahan objek sebagaimana yang terlihat dari Bumi. Nilai ini sangat dipengaruhi oleh jarak objek dari pengamat; objek yang sangat jauh mungkin terlihat redup meski aslinya sangat terang.
- Magnitudo Mutlak (M): Ukuran kecerahan intrinsik atau kecerahan sebenarnya dari suatu objek. Magnitudo ini dihitung dengan menempatkan objek pada jarak standar 10 parsek (sekitar 32,6 tahun cahaya) agar perbandingan antar objek menjadi adil.
Perbandingan Kecerahan Objek Populer
Skala magnitudo memungkinkan kita membandingkan kecerahan berbagai benda langit secara presisi:
| Objek Langit | Magnitudo Semu (m) | Keterangan |
|---|---|---|
| Matahari | -26,74 | Objek paling terang yang teramati dari Bumi. |
| Bulan purnama | -12,92 | Objek alami kedua tercerah di langit. |
| Venus | ~ -4,6 hingga -4,8 | Planet tercerah, sering dijuluki “Bintang Kejora”. |
| Sirius | -1,46 | Bintang paling terang di langit malam malam. |
| Vega | 0 | Nilai referensi skala magnitudo |
| Batas penglihatan mata telanjang | +6,0 hingga +6,5 | Batas objek paling redup yang masih bisa dilihat manusia tanpa alat bantu di langit yang gelap. |
| Pluto | +13,6 sampai +16,5 | Memerlukan bantuan teleskop |
| Objek teredup yang terdeteksi teleskop Hubble | +30 sampai +31,5 | Teredup sekaligus terjauh |
Aturan Skala Pogson
Perhitungan modern didasarkan pada Rumus Pogson, yang menetapkan bahwa perbedaan 5 magnitudo setara dengan perbedaan kecerahan 100 kali lipat. Ini berarti setiap penurunan 1 angka magnitudo (misal dari 2 ke 1), objek tersebut menjadi sekitar 2,512 kali lebih terang.
Faktor Magnitudo pada Astrofotografi
Kamera dapat mendeteksi objek yang jauh lebih redup daripada mata manusia. Sementara mata manusia terbatas sekitar magnitudo 6, kamera dapat menangkap objek dengan magnitudo 20 atau lebih tinggi, tergantung pada apertur dan waktu eksposur.
Apertur teleskop menentukan kecerahan objek pada sensor, sementara panjang fokusnya menentukan skala gambar (seberapa besar objek tampak).
Partikel di atmosfer menyerap dan menyebarkan cahaya, mengurangi intensitas suatu objek dan membuatnya tampak lebih tinggi magnitudonya (lebih redup).
Beberapa faktoryang diperhatikan dalam fotografi objek angkasa yang sangat redup adalah sebagai berikut:
- Apertur: Diameter yang lebih besar mengumpulkan lebih banyak foton, memungkinkan deteksi objek yang lebih redup dan bermagnitudo lebih tinggi.
- Waktu eksposur: Total waktu eksposur yang lebih lama meningkatkan sensitivitas.
- Efisiensi kuantum sensor (QE): QE yang lebih tinggi berarti sensor mengubah lebih banyak foton menjadi elektron.
- Ukuran piksel & gain: Piksel yang lebih kecil memberikan resolusi yang lebih tinggi, sementara pengaturan gain yang optimal membantu mengatasi noise baca.
- Kualitas langit: Polusi cahaya minimal sangat penting untuk memisahkan objek redup dari latar belakang.


Tinggalkan Balasan