Seperti disebutkan dalam postingan sebelumnya, ini adalah sistem teleskop yang saat ini saya impikan:
- Mounting: SVBONY SV225
- Teleskop: SVBONY MK127
- Kelengkapan:
- Eyepiece atau lensa okuler: SVBONY 68 Degree Wide Angle Eyepieces
- Finder scope: SV182 6×30 Right-Angle Finder Scope
- Kaca diagonal: SV188P 90 Degree Dielectric Mirror Diagonal
- Kamera: SVBONY SC715C OSC
Tetapi perhatikan grafik di bawah ini:

Semakin hari nilai USD semakin naik dan membuat hati menjadi sedih. Perlu penyesuaian atau alternatif. Nah, ini adalah alternatifnya:
Alternatif Pertama
Mounting dan tripod: SVBONY SV225
Untuk dudukan sepertinya tidak ada kompromi. Harus yang kokoh! Sampai saat ini saya kira tripod dan mounting dari SVBONY masih menjadi pilihan. Setelah memakai binokuler, saya makin meyakini bahwa dudukan dan tripod yang kokoh sangat penting. Tidak ada kompromi. Mounting ini pada keterangan dapat menopang beban maksimum 10 kg namun paling menurut yang saya baca optimal hanya setengah atau 5 kg saja.
Namun tentu saja, banyak yang lebih baik. Apalagi mounting ekuatorial yang memakai motor, wah, sangat menggiurkan. Namun, dikarenakan keterbatasan dana, saya kira itu nanti saja kalau ada kesempatan upgrade. Sekarang belajar dengan yang sesuai level saja, yaitu masih amatir, yang mudah saja, tipe alt-azzimuth saya kira sudah cukup.

Teleskop: SVBONY SV48P 102mm
Ini sepertinya harus diubah. Sebelumnya sempat tergiur dengan teleskop katadioprik SVBONY MK127. Untuk teleskop pemula sebenarnya agak berlebihan ya. Karena itu akhirnya berpaling ke teleskop refraktor. Kriterianya punya apertur di atas 100 mm dan minimal refraktor akromat.
Saya memilih teleksop merek SVBONY lagi, reviewnya cukup baik. Adapun pilihannya yaitu teleskop SV48P 102 mm. Apertur 102 mm atau 4 in, F/6,5 dengan lensa akromat, berarti panjang fokusnya 663 mm. Posisinya ada di tengah-tengah, memang bukan teleskop tipe cepat (F/4 atau lebih lebih kecil) atau teleskop lambat (F/10 atau lebih), namun karena berada di tengah jadi bisa fleksibel. Apalagi kita juga bisa memakai focal reducer untuk memperbesar rasio fokal atau lensa Barlow untuk memperbesar.
Keuntungan laiinya adalah tidak perlu kolimasi seperti teleskop Newtonian, sehingga saya kira masih cocok untuk amatir pemula seperti saya.

Untuk pembelian, teleskop ini bisa dibeli secara OTA atau dengan bundle kelengkapatan tambahan sesuai kebutuhan. Di market place Indonesia saya lihat ada seller resmi yang menjual produk SVBONY ini.
Kelengkapan
Walaupun merupakan teleskop pertema, tapi saya menghindari membeli teleskop yang paketan. Dikarenakan teleskop ini hanya OTA saja, maka sekalian membeli perlengkapannya teleskopnya. Adapun tambahannya adalah sebagai berikut:
- Eyepiece: Ada 3 yaitu SVBONY 68 Degree Wide Angle Eyepieces 6 mm, Plossl Eyepiece 40 mm, dan SV135 Zoom Eyepiece 1.25 inch 7-21 mm.
- Eyepiece yang pertama SVBONY 68 Degree Wide Angle Eyepieces 6 mm, merupakan eyepiece untuk pembesaran maksimal, dimana dengan panjang fokus 6 mm, digabungkan dengan teleskop akan menghasilkan pembesaran sekitar 110 kali dan jika memakai lensa Barlow 2X bisa memberi pembesaran sampai 220 (mendekati batas maksimum pembesaran teleskop yaitu 200 kali). Yang saya harapkan dari eyepiece ini adalah karena sudut buka atau bidang panjang yang lebih lebar yaitu 68° jadi bayangan yang dihasilkan lebih besar dan lebih nyaman untuk dipakai.
- Yang kedua, Plossl Eyepiece 40 mm. Eyepice ini jika digabungkan dengan teleskop akan menghasilkan pembesaran hanya 16,5 kali, jadi pembesarannya hanya setara binokuler saja (binokuler yang saya punya pembesarannya 25X!). Tapi, dengan luas pandang yang luas, eyepice bermanfaat untuk pengamatan objek ukuran besar seperti galaksi, cluster, dan rasi bintang serta mempermudah kita untuk mencari objek yang akan kita amati kemudian diikuti menggunakan eyepeice dengan pembesaran yang lebih besar. Dengan menggunakan lensa Barlow 2X kita juga bisa memberbesar pembesaran eyepiece ini menjadi 33 kali.
- Ketiga adalah SV135 Zoom Eyepiece 1.25 inch 7-21 mm dimana satu eyepice namun bisa disetting untuk mendapatkan berbagai pembesaran sampai maksimal 7 mm. Jadi eyepiece ini seperti memiliki beberapa eyepice dalam satu alat sehingga kita tidak perlu mengganti eyepiece untuk memperbesar atau mempekecil objek pengamatan. Selain itu, kita juga bisa memperingkas jumlah eyepiece yang dimiliki sehingga mudah dibawa ke mana-mana. Tetapi, dikarenakan desainnya lebih kompleks, zoom eyepiece memiliki lebih banyak lensa optik dan bisa berakibat bayangan yang dihasilkan lebih redup dan tentu saja, akan lebih mudah mengalami kerusakan.




- Finder scope: SV182 6×30 Right-Angle Finder Scope.
Finder scope adalah teleskop bidik berukuran mini yang dipasang sejajar di atas tabung teleskop utama. Fungsinya sebagai alat bantu untuk mempermudah dan mempercepat pelacakan objek (seperti bintang atau planet) sebelum dilihat melalui lensa utama yang bidang pandangnya jauh lebih sempit. Ada dua jenis finder scope yaitu tipe optikal dan red dot finder (RDT). Adapun SV182 6×30 merupakan finder scope tipe optikal.

- Kaca diagonal: SV188P 90 Degree Dielectric Mirror Diagonal.
Kaca diagonal teleskop (atau diagonal bintang) adalah cermin atau prisma bersudut yang dipasang di ujung teleskop untuk membelokkan arah cahaya sebesar atau . Komponen ini memungkinkan kita melihat ke dalam eyepiece dari samping dengan posisi yang jauh lebih nyaman. Adapun yang saya pilih adalah kaca diagonal . Kekurangan dari adanya diagonal adalah bahwa cermin tidak bisa memantulkan cahaya seperti sempurna. Tingkat reflektivitas adalah persentase cahaya yang dipantulkan kembali oleh permukaan cermin. Semakin rendah tingkat refektivitas, maka bayangan yang dihasilkan semakin redup. Cermin biasa memiliki tingkat reflektivitas , Adapun SV188P menggunakan cermin dielektrik yang memiliki tingkat reflektivitas

JIka dilihat di atas, semuanya bermerek SVBONY. Tentu banyak juga merek yang lain, tapi untuk saat ini saya ingin mencoba satu merek supaya mudah paket pengirimannya.
Kamera: SVBONY SV105
Dari pengalaman saaya sebelumnya saya sangat kesulitan untuk mengambil gambar dengan HP. Tremornya sangat kelihatan dan sulit mendapatkan fokus. Adapun untuk menggunakan adaptor saya kurang suka karena jadi lebih repot. Oleh sebab itu, saya mencoba mencari kamera teleskop khusus yang paling murah. Bukan untuk astrofotografi serius tapi untuk mempermudah pengambilan gambar sekaligus langkah awal untuk mempelajari astrofotografi.

Tentu alternatifnya adalah dengan memakai HP dan adaptor. Saya sudah mencoba memakai keduanya untuk mengambil gambar dengan menggunakan binokuler. Hasilnya ya tentu seadanya dan seperti gambar di bawah ini:

Berapa kira-kira biaya untuk sistem ini? Mari kita hitung dengan data terakhir Mei 2026
| Item | Harga* |
|---|---|
| Paket SVBONY SV48P 102mm + SVBONY SV225 dan tripod + Kaca diagonal: SV188P + Finder scope: SV182 6×30 + SV135 Zoom Eyepiece 1.25 inch 7-21 mm | USD 542,99 |
| Plossl Eyepiece 40 mm | USD 26,99 |
| SVBONY 68 Degree Wide Angle Eyepieces 6 mm | USD 39,99 |
| Lensa Barlow 2X SV216 | USD 50,99 |
| Kamera SV205 | USD 77,99 |
| Total | USD 738,95 |
Jika ke dalam rupiah berarti Rp.13.078.380,47. Hmmm… Masih cukup mahal tapi sudah lebih berkurang. Apalagi jika ditambah ongkos kirim dan bea cukai bisa Rp.18-Rp.20 jutaan. Apakah ada alternatif lain yang lebih ekonomis?
Alternatif Kedua
Kurang lebih seperti di atas tapi tentu mencari model yang lebih murah. Misal
- Mounting dan tripod: Ini sangat sulit mencari alternatif yang lebih murah. Tapi dari yang saya cari ada yang lebih murah yaitu SV225 MINI Alt-Azimuth Telescope Mount. Dudukan ini lebih kecil dan memiliki daya sokong beban maksimal 5 kg (optimal mungkin hanya 2-3 kg).
- Teleskop: SV48P Achromatic Telescope 90 mm F/5.5 yang memiliki bukaan lebih kecil yaitu 90 mm.
- Eyepiece: SVBONY Eyepiece Optional Lens 4/10/23mm Wide Angle 62°. Model ini ada 3 eyepiece yaitu 23 mm, 10 mm, dan 4 mm. Tentu saja, ditambah dengan lensa Barlow 2X sehingga seakan-akan kita memiliki total 6 eyepiece yang berbeda.
- Finder scope: Untuk yang lebih ekonomis memilih red dot finder. Bisa mencari merek apapun, misalnya SVBONY SV179.
- Kaca diagonal: SV221 Mirror Diagonal 1.25inch 90 Degree. Perbedaannya adalah bahan pelapis cermin menggunakan aluminium dengan tingkat reflektivitas di atas 92%. Tentu jika ingin mendapatkan tingkat reflektivitas tinggi kira tinggal melepas diagonal dan langsung memasangkan eyepiece ke teleskop tanpa diagonal.
- Kamera: HP dan adaptor saja. Ini saya sudah ada, tidak perlu beli baru.






Nah, berapa biayanya? Berikut data harganya (Mei 2026)
| Item | Harga* |
|---|---|
| SV225 MINI Alt-Azimuth + Tripod | USD 179,99 |
| SV48P Achromatic Telescope 90 mm F/5.5 | USD 276,99 |
| SVBONY Eyepiece Optional Lens 4/10/23mm Wide Angle 62° | USD 35,50 |
| Lensa Barlow 2X SV137 | USD 21,99 |
| Finder scope: SVBONY SV179 | USD 20,99 |
| SV221 Mirror Diagonal 1.25inch 90 Degree | USD 23,99 |
| Total | USD 559,45 |
Jika ke dalam rupiah total sekitar Rp.9.901.481,77. Masih di bawah Rp.10 juta, cuma lumayan juga sih masih mahal. Itu belum termasuk ongkos kirim dan bea cukai. Mungkin bisa membengkak sampai Rp.15 jutaan.
Alternatif Ketiga dan Terakhir!
Masih ingin lebih murah juga, sepertinya saya harus ke kelompok kategori paket teleskop. Ada beberapa pilihan:
- Teleskop refraktor: Untuk teleskop refraktor, kriteria utama saya adalah bukaan minimal 90 mm atau lebih baik lagi di atas 100 mm. Ada beberapa yang menarik perhatian saya:
- SVBONY SV520. Teleskop utama 90 mm, F8,9. Sudah termasuk dudukan alt-azimuth, optical finder scope 5 x 24, lensa Barlowe 3X, eyepiece ada dua plossl 10 mm dan K25 mm (Kellner). Harganya yaitu USD 229,99 atau Rp.4 jutaan. Nah, kalau ditambah ongkos kirim dan bea cukai bisa saja jadi Rp.8-Rp.10 jutaan.
- Celestron Omni AZ 102 mm. Teleskop ini terkenal bagus untuk harganya. Tapi, sudah lama tidak muncul. Yang ada adalah Celestron AstroMaster 102AZ. Keduanya tidak sama dan saya kurang yangkin akan Celestron AstroMaster 102AZ ini.
- Teleskop reflektor: Kalau di luar negeri, pilihannya adalah teleskop dobsonian misalnya Sky-Watcher Heritage 150 dengan harga USD 355 atau sekitar Rp. 6 jutaan. Teleskop ini memiliki apertur 150 mm atau 5,9 in dengan rasio fokal F/5. Tapi kalau di gabungkan dengan ongkos kirim dan cukai bisa menjadi Rp.14 jutaan. Sungguh membuat geleng-geleng kepala. Bagaimana dengan celestron? Untuk kategori ini artinya harus di bawah Rp.5 jutaan atau masih setara Rp.9 jutaan. Menurut saya hampir tidak ada pilihan yang baik. Mounting atau dudukan menjadi masalah utama, banyak yang kurang kuat. Belum lagi perlunya kolimasi, sepertinya lebih banyak kelemahannya dibandingkan teleskop refraktor yang setara.
Alternatif Tanpa Teleskop: Binokuler
Nah itu dia alternatif-alterntif lain yang sedang saya pikirkan untuk diakuisisi. Bagaimana pendapat Anda? Lalu untuk pemula lain seperti apa? Tentu dari pada teleskop murah dengan kualitas buruk, ada baiknya untuk memiliki sebuah binokuler untuk astronomi. Adapun yang menurut saya bagus dan saya juga cukup tertarik adalah: Teleskop Porro SV206 10 x 50 seharga USD 86,99 atau Rp.1.539.601,21. Tentu belum termasuk ongkos kirim dan bea cukai ya.
Jadi, jika dengan budget terbatas, saya kira paling optimal terlebih dahulu tanpa menggunakan teleskop. Mulailah dengan binokuler. Adapun kriteria binokuler yang cocok untuk astronom pemula adalah sebagai berikut:
- Desain binokuler: tipe Porro untuk meminimalkan hilangnya cahaya saat mengalami pembiasan.
- Apertur besar, bisa 40 mm atau lebih, walaupun yang lebih kecil juga memungkinkan jika kriteria di bawah memenuhi.
- Jangan terfokus pada pembesaran saja. Pembesaran 10 atau 15 kali juga sudah cukup optimal terutama untuk mendapatkan luas pandang atau field of view (FOV) yang luas. Semakin besar tingkat pembesaran FOV jadi lebih kecil.
- Kaca prisma: terbuat dari bahan BaK-4
- Exit pupil 3-5 mm, membagi apertur dengan pembesaran. Misalkan binokuler 10 x 50 berarti memiliki exit pupil 50 : 10 = 5
- Pembesaran tetap, bukan tipe binokuler zoom.
- Lensa depan, prisma, dan okuler memiliki coating. Tidak hanya depannya saja, tapi setiap permukaan lensa memiliki coating. Coating dari lensa berfungsi untuk meminimalkan hilangnya foton atau cahaya saat melewati lensa. Tanpa coating, bayangan yang dihasilkan akan jadi lebih redup.
Nah, dengan menggunakan kriteria di atas, kita bisa menggunakannya untuk memilih binokuler merek lainnya dan membandingkannya dengan berbagai merek dan tipe untuk mendapatkan harga terbaik.


Tinggalkan Balasan